Skip to main content

Full text of "ebook tauhid dan jihad_1"

See other formats


Abu Jaisy Al Ghareeb 
Trilogi Serial 

KEBANGKITAN 
JIHAD 

Dl INDONESIA 

Bagian satu : 
Pelajaran dari Masa Lalu ( Sebuah Renungan ) 

dan 

Bagian Dua : 

Menghadapi Makar Thoghut 

diterbitkan oleh : 

GHUROBAA' PUBLISHING 

Bekerjasama dengan Forum Islam Al-Busyro 



Kritik, saran, tanggapan, dan masukan silahkan disampaikan via komen di 
http://jaisyulghareeb.wordpress.com/ 



MUQADDIMAH 

Segala puji hanya bagi Alloh yang telah menurunkan syari'at jihad, sholawat dan 
salam semoga tercurahkan selalu kepada Rasulullah Muhammad % beserta keluarga dan 

para sahabatnya sekalian. 

FirmanALLOHTa'ala: 

" mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang 
yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya 
Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan 
berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!". 

"orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir 
berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena 
Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.". ( An Nisaa 75-76) 

" Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan 
dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat Para mukmin (untuk berperang). 
Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah Amat besar 
kekuatan dan Amat keras siksaan(Nya)."(An Nisaa 84 ) 

Ikhwah fillah....ayat-ayat di atas adalah ayat-ayat yang sampai hari ini menjadi 
penyemangat kami dalam melalui hari-hari yang sulit dalam kancah jihad di negri 
bernama Indonesia ini. Banyaknya ikhwan kami yang diuji dengan tertawan oleh thoghut, 
sempitnya ruang gerak, kurangnya harta dan sumber daya, tangis anak istri kami dalam 
kesabaran mereka, dan semakin jauhnya ummat dari jihad dan mujahidin tidak membuat 
kami berhenti melangkah. 

Alhamdulillah bi nashrillah kami masih bisa eksis meski belum ada lagi 
amaliyah yang berarti yang bisa kami lakukan untuk menyalakan kembali harapan 
ummat. Di tengah kesempitan dan beratnya ujian yang menimpa kami, kami melihat 
secercah harapan bahwa masa depan jihad di negri ini insya Alloh cerah jika kita semua 
bisa mengambil pelajaran dari kegagalan-kegagalan di masa lalu dan tetap terus berupaya 
memerangi musuh. Karena dalam upaya memerangi musuh kita akan menemukan 
kelemahan musuh dan strategi mengalahkan mereka. 

Atas dasar itulah, kami mencoba untuk ikut andil dalam membangkitkan kembali 
semangat ummat (melalui sedikit tulisan kami ini) untuk terus berperang melawan tirani 
thoghut khususnya di negri ini karena telah banyk darah mujahidin dan kaum muslimin 
yang telah mereka tumpahkan demi kepentingan kekuasaan dan syahwat duniawi mereka. 

Tulisan ini akan terdiri dari tiga bagian yaitu : 

Bagian Pertama : Pelajaran dari masa lalu ( sebuah renungan ) 

Bagian kedua : Menghadapi makar Thoghut 

Bagian ketiga : Strategi Perlawanan 

Mengapa harus melalui tulisan dan mengapa harus segera disampaikan ke ummat 
? Karena beberapa alasan berikut : 

1. Kami melihat perkembangan aktivitas di forum-forum jihad, grup-grup 
faccebook, maupun aktivis-aktivis bloger sudah sedemikian pesatnya, sehingga tulisan 
semacam ini akan cepat tersebar tanpa wujud di dunia nyata sehingga kami pun insya 
Alloh tetap terjaga amniyah kami. 

2. Kami tidak tahu kapan umur kami di dunia ini akan berakhir, boleh jadi kami 
belum sampai merealisasikan ide-ide amaliyah kami namun ALLOH telah memanggil 



kami, maka kami berkewajiban untuk menyambungkan ide dan pelajaran yang kami 
peroleh kepada ummat agar jikalau kami meninggal dunia sewaktu-waktu, apa yang telah 
kami peroleh bisa dimaniaatkan oleh generasi penerus jihad di negri ini. 

Apa yang akan kami uraikan dalam tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman 
dari proyek-proyek amaliyah jihad yang telah terjadi di negri ini sejak Ambon, Poso, 
Bom Bali 1 sampai aksi Ightiyalat di Bima dan bom Solo baru-baru ini, yang mana 
beberapa di antaranya kami terlibat di dalamnya dan sebagian yang lainnya kami ikuti 
perkembangannya melalui wawancara dengan tokoh-tokoh yang terlibat baik yang masih 
bebas maupun yang sedang dalam tawanan thoghut, dan sebagian yang lainnya lagi kami 
analisis berdasarkan pemberitaan di media. 

Sengaja dipilih kata "kami" untuk menyebut kata ganti orang pertama dalam 
tulisan ini, karena ini memang bukan hasil yang diperoleh seseorang tapi oleh 
sekumpulan orang. Juga untuk menunjukkan bahwa masih ada sekelompok kecil dari 
ummat ini yang masih eksis di kancah jihad di negri ini. 

Dalam tulisan ini kami juga tidak banyak menyertakan dalil, karena yang akan 
diuraikan ini lebih kepada pembahasan persoalan teknis dan strategi bukan landasan 
amal, karena insya Alloh kita telah sama-sama faham akan iaridhoh jihad pada hari ini. 

Demikian muqaddimah yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan tulisan ini 
dapat bermaniaat sebagaimana yang kami harapkan dan semoga Alloh berkenan 
menerima amal kecil ini sebagai amal shalih di sisi-Nya. Allohumm Amiin... dan jangan 
lupakan kami dalam doa-doa antum yang shalih....Wallohul Musta'an wa yahdiy ilaa 
aqwaamith thariq.. ! ! ! 

Bumi Hijrah, Muharram 1433 H. 
Al Faqiir ilaa 'afwi Rabbihi 

Abu Jaisy al Ghareeb 



BUKU PERTAMA 

PELAJARAN DARI MASA LALU ( Sebuah Renungan ) 

Jihad Perlu Strategi Yang Sesuai dengan Kondisi di mana Jihad itu berlangsung 

Hari ini kita tengah disuguhi pertunjukan perang antara mujahidin melawan 
penjajah kafir teroris zionis dan salibis internasional di berbagai belahan penjuru dunia. 
Di masing-masing tempat berlangsung perang dalam bentuk amaliyah yang berbeda-beda 
namun punya satu kesamaan yaitu : menyerang musuh di mana musuh bisa diserang 
dengan mudah untuk menimbulkan teror dan menguras energi musuh. Dan faktor utama 
yang menyebabkan perbedaan bentuk amaliyah dan bentuk tandhim jihadnya adalah 
kondisi yang meliputi : 

1. Kemampuan atau kekuatan musuh yang dihadapi 

2. Kondisi sosial kemasyarakatan 

3. Kondisi geograiis suatu negri 

4. Kemudahan dalam pengadaan Logistik amaliyah 

Mari kita lihat belajar dari beberapa bumi jihad berikut : 
Afghanistan, faktor-faktor pendukungnya : 

- Markas musuh di kota dan mujahihidin menguasai pegunungannya 

- Logistik yang mudah didapat 

- Masyarakatnya mayoritas anti penjajahan dan bermental pejuang 

- Ikatan kesukuan yang kuat 

- Wilayah perbatasannya yang terkenal bebas 
Iraq, faktor pendukungnya : 

- Kebencian masyarakat terhadap penjajah 

- Logistik yang melimpah 

- Kebodohan musuh dalam mengenali mujahidin yang membaur dalam 
masyarakat 

- Tidak adanya pemerintahan yang diterima semua masyarakat Iraq 
Yaman, faktor pendukungnya : 

- Wilayah-wilayah yang masih banyak dikuasai suku-suku di Yaman Selatan 

- Jalur logistik yang mudah 

- Pemerintahannya sangat korup sehingga masyarakat sangat membencinya. 

- Dukungan suku-suku terhadap mujahidin 
Filipina, Pattani: 

Memiliki wilayah yg dikuasai (hutan sbg markas), dan masyarakatnya 
melindungi mujahidin 

Kami mencukupkan contoh dengan tiga contoh di atas, karena pada intinya yang 
harus kita pahami adalah bahwa pada setiap bumi jihad memiliki strategi yang berbeda- 
beda, dan masing-masing strategi memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Lalu bagaimana 
dengan kondisi negri Indonesia ? 

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan kami selama ini, di negri ini ada dua 



"madzhab" besar dalam amaliyah, yaitu : 

1. Menyerang musuh di tempat di mana musuh paling mudah diserang 
Madzhab ini berpendapat bahwa untuk menunjukkan solidaritas atau pembelaan 

atas kedhaliman yang terjadi terhadap kaum muslimin di seluruh dunia harus ditunjukkan 
dengan aksi qishos atau menghukum musuh di tempat yang terdekat dengan kita dan 
yang paling mudah untuk diserang namun memiliki efek teror yang dahsyat. 

Serangan pertama kelompok yang bermadzhab ini adalah Bom kedubes Filipina 
pada bulan Agustus 2000. Serangan dilakukan sebagai bentuk balasan kepada pemerintah 
filipina atas serangan mereka ke kamp mujahidin dan sebagai bentuk dukungan kepada 
mujahidin di Filipina selatan. 

Lalu berikutnya adalah serangkaian Bom malam Natal 2000, sebagai bentuk 
dukungan dan pembelaan kepada kaum muslimin di Ambon yang dibantai oleh pasukan 
kafir salibis. Dan yang paling dahsyat berikutnya adalah Bom Bali 1 yang benar-benar 
menghentakkan seluruh dunia, karena pasca serangan WTC belum ada aksi sedahsyat itu. 
Sebelum para pelaku terungkap, di dunia maya marak (meski tidak secepat sekarang) 
beredar pernyataan dari orang yang mengaku sebagai komandan batalion Istimata bahwa 
itu adalah aksi pembalasan atas kedhaliman yang dilakukan Amerika dkk terhadap kaum 
muslimin di seluruh dunia. Hal ini semakin jelas setelah para pelakunya tertangkap dan 
bertutur di pengadilan dan juga menuliskannya dalam buku-buku dan makalah-makalah 
yang beredar luas baik di dunia maya maupun nyata. 

Rangkaian serangan bom berikutnya juga masih didasari hal yang sama, yaitu 
sebagai pembelaan terhadap kaum muslimin dan hukuman bagi thoghut. Bahkan sampai- 
sampai baru-baru ini Al Qaida masih menyerukan kepada mujahidin Indonesia untuk 
menghukum para thoghut yang telah berani memenjarakan mujahidin terkhusus lagi 
memenjarakan ust Abu Bakar Ba'asyir.(majalah Inspire 5, 2011) 

Soal bentuk amaliyahnya bahkan bisa dilakukan seorang diri dengan strategi The 
Lone Wolf yang mulai marak di seluruh dunia. Aksi-aksi individu yang dilakukan dalam 
rangka membela izzul Islam wal Muslimin. 

Nanti hal (strategi)ini akan kita uraikan lebih jauh pada bagian ketiga dari buku 
ini. Karena pada bagian pertama ini yang akan kita bahas adalah pelajaran dari amaliyah- 
amaliyah yang sudah terjadi. 

2. Menghadapi musuh di suatu wilayah di mana kaum musliminnya telah 
sepakat untuk membentuk suatu qaidah aminah sebagai basis perjuangan. 

Tujuan dari kelompok ini adalah membentuk suatu basis perjuangan di mana 
nantinya kaum muslimin bisa datang untuk berjihad atau berlatih dan kemudian dapat 
menguasai sejengkal wilayah yang akan dijadikan percontohan bagi kaum muslimin di 
tempat lain. Hal ini terinspirasi dari mujahidin Afghan, Mujahidin Filipina Selatan, 
Chechnya, dll. Prestasi terbaik madzhab ini adalah berdirinya basis di Tanah Runtuh 
Poso, di mana sempat terjadi rotasi mujahidin ( ada mujahid keluar dan ada mujahid baru 
yang masuk), juga beberapa aksi ightiyalat dan peledakan yang sukses. Dan model ini 
lebih -cenderung- disetujui oleh tandhim jihad sirriyah pada masa itu daripada model 
aksi-aksi dari penganut madzhab yang pertama. Ini kami saksikan sendiri, sebagian dari 
kami sempat telibat di dalamnya. Ini terbukti dari mengalirnya dana yang rutin dari "atas" 
meski tidak banyak, tidak seperti kelompok pertama yang harus mencari sendiri dana 
operasionalnya. 

Di kemudian hari strategi ini coba dikembangkan lagi dengan dibuatnya markaz 



tadrib askari di Aceh, tentunya dengan modifikasi dan personalisasi di sana sini. Tapi 
polanya masih mirip, yaitu menguasai suatu tempat untuk melakukan kaderisasi 
mujahidin. 

Lalu strategi yang mana yang paling tepat untuk dilakukan di negri ini saat ini ? 
Pada bagian pertama tulisan ini kita akan mencoba mengambil pelajaran dari kasus-kasus 
amalaiyah yang pernah terjadi. Pada setiap strategi ada kelemahan dan kelebihan masing- 
masing. Intinya setiap bumi jihad atau ladang jihad mempunyai karakterisitik yang 
berbeda-beda sehingga strategi pun pasti berbeda pula. Misalnya Ketika ingin 
menduplikasi model jihad Afghan kita harus melihat apakah unsur-unsur pendukungnya 
telah cukup ? ketika mau membuat amaliyah seperti serangan WTC apakah personel kita 
telah siap untuk menyiapkan serangan,melakukan serangan dan kemudian menghilang di 
wilayah musuh ? Dst dst dst 

Strategi perlawanan itu dibuat untuk menghadapi strategi musuh, ketika musuh 
merubah strateginya, maka kita pun harus menyesuaikan strategi kita. Bukan terpaku 
pada strategi lama, karena sebuah strategi itu memiliki masa kedaluwarsa yaitu ketika 
strategi atau peta kekuatan musuh berubah. 

Wallohu Ta'ala a'lam. 

— 00OO00 — 

" Sesungguhnya perang itu dimulai di tempat adanya musuh " 

-Syaikh Abu Mushab az Zarqawi rahimahulloh- 

— 00OO00 — 



SEJAK KAPAN MUSUH MENGETAHUI BAHWADI NEGRI INI BANYAK 
MENYIMPAN KADER-KADER JIHAD DAN MUJAHIDIN ? 

Sebenarnya thoghut negri ini sudah mengetahui bahwa di negri ini ada potensi 
militansi dan radikalisme dalam tubuh ummat Islam sudah sejak lama, bahkan mungkin 
sejak pasca ditumpasnya pemberontakan DI/TII. Tapi tanda-tanda letupan radikalisme 
baru terjadi sejak peristiwa disidangkannya Ust Abdullah Sungkar dan ust Abu Bakar 
Ba'asyir dalam kasus penolakan Asas Tunggal pada pertengahan decade 80-an yang 
menyebabkan beliau berdua harus hijrah ke negri jiran selama beberapa tahun. Sejak saat 
itu thoghut mulai intensif melakukan kegiatan-kegiatan intelijen untuk mengumpulkan 
data untuk mengetahui seberapa kuat dan seberapa tingkat bahaya dan ancamannya bagi 
Negara. 

Pada peristiwa jihad Afghan mereka (musuh/thoghut) juga telah mengirimkan 
agen-agen mereka ke sana dengan menyamar sebagai jurnalis,dokter kemanusiaan, 
pejabat imigrasi,dsb dsb... sehingga mereka pun mengetahui bahwa ada orang-orang dari 
Indonesia yang ikut berperang di sana, meskipun para ikhwan kita yang berjihad di 
Afghan biasa mengaku dari Malaysia kepada orang lain yang ditemui. 

Pada masa itu yang mereka lakukan hanya mengumpulkan data dan belum perlu 
diambil tindakan, dan mereka juga tidak sampai intensif menyamar menjadi mujahid 
dalam operasi intelijen mereka pada masa itu,karena resiko jadi mujahidin Afghan sangat 
tinggi (mereka ini takut mati,dan ini adalah kelemahan terbesar musuh hingga saat ini). 
Jadi informasi yang mereka kumpulkan hanya sebatas berapa jumlah orang Indonesia 
yang ikut dalam jihad Afghan. 

Di dalam negri mereka juga mengintensifkan pemantauan terhadap pengajian- 
pengajian atau taTim-taTim terutama yang dilakukan oleh orang-orang yang 
diindikasikan berpaham "radikal". Sama, yang mereka lakukan hanya mendata. Selain itu 
mereka juga telah mencoba bereksperimen untuk meletupkan potensi radikalisme ini, 
seberapa hebat/kuatkah yang bisa dilakukan oleh orang-orang radikal itu. Peristiwa 
Tanjung Priok, Talangsari Lampung, pembajakan pesawat Garuda, Komando Jihad, 
adalah contoh nyata eksperimen thoghut. 

Berdasarkan data-data di masa lalu itulah ketika meletus perang Ambon-Poso, 
mereka setengah sengaja membiarkannya berlarut-larut untuk sekalian dijadikan ladang 
pengumpulan data tentang kemampuan tempur mujahidin Indonesia. Data-data itu 
kemudian sedianya akan digunakan untuk menentukan peta kekuatan mujahidin, 
melokalisir potensi konflik, dan menentukan langkah-langkah pembasmian. 

Pada masa itu musuh telah mengetahui bahwa mujahidin itu berasal dari 
beberapa daerah di Indonesia, bersatu dalam amaliyah jihad karena menunaikan 
kewajiban membela saudarnya yang dibantai kaum salibis di Ambon dan Poso. Dan telah 
mengetahui pula kemampuan mujahidin dalam bertempur,membuat peledak, merekrut 
dan melatih mujahid-mujahid baru. Namun, pada waktu itu musuh mengira bahwa 
mujahidin itu beraksi karena sebab dibantainya kaum muslimin oleh para salibis 
lokal,sehingga merasa belum menjadi ancaman serius bagi berlangsungnya kekeuasaan 
thoghut. Ya. . . waktu itu belum ada istilah "terorisme", belum ada maklumat perang salib 
yang dikumandangkan oleh Dajjal bush la'natullah...dan Al Qaidah masih belum 
mendunia. 

Waktu itu perang yang sesungguhnya belum dimulai....perang yang mengancam 



7 



kekuasan thoghut...perang yang bersirat mengikuti pola perang global masih belum 
dimulai... 

Begitulah kira-kira yang ada dalam benak thoghut pada masa itu... bahkan 
sampai setelah Bush lamatullah mengumumkan era perang salib baru terhadap mujahidin 
mereka juga belum memperkirakan bahwa mujahidin Indonesia akan turut ambil bagian 
dalam jihad global. 



DIMULAINYA PERANG YANG SESUNGGUHNYA, YANG 
MENGGUNCANG SINGGASANA KEKUASAAN THOGHUT NEGRI INI 

Operasi amaliyah Istisyhadiyah penuh barokah Bom Bali yang pertama adalah 
tonggak dimulainya era perang baru, perang melawan Salibis Intenasional dengan 
mengikuti pola serangan yang dipelopori oleh Al Qaidah, yaitu menyerang musuh di 
tempat di mana musuh paling mudah untuk diserang di manapun berada. Teror telah 
dimulai. Pernyataan yang beredar di forum dan milis-milis di internet tentang Bom Bali 
telah cukup menunjukkan bahwa itu adalah salah satu operasi jihad global yang 
dilakukan oleh mujahidin lokal, sebagai bentuk pembelaan terhadap 
penindasan,pembantaian,penghinaan, dan kedhaliman yang selama ini terjadi pada kaum 
muslimin di seluruh dunia. 

Di persidangan kemudian terungkap semakin jelas bahwa amaliyah bom bali ini 
dibuat dalam rangka menyambut seruan syaikh Usamah -rhm- untuk memerangi 
Amerika dan sekutunya di seluruh dunia karena Amerika telah memaklumatkan perang 
salib melawan Mujahidin (teroris) di seluruh dunia. 

Bom Bali pertama telah memaksa pemerintahan thoghut untuk terlibat dalam 
perang (salib) global melawan mujahidin (Islam). Karena mereka tidak menyangka 
sebelumnya bahwa akan ada serangan model begini, maka mereka langsung mengiyakan 
setiap tawaran bantuan dalam melakukan penyelidikan dan penindakan terhadap 
mujahidin negri ini yang mereka sebut sebagai "teroris". 

Maka mulailah dibentuk satgas bom, yang di kemudian hari lebih dikenal dengan 
Densus 88 -la'natullah 'alayhim- yang disokong penuh oleh Amerika dan negara-negara 
pro Amerika (dalam hal ini Ausralia yang paling besar perannya). Mereka (densus 88) 
mendapat pelatihan anti teror di Amerika dan mendapatkan bantuan peralatan secara 
Cuma-Cuma. Waktu kejadian bom Bali yang pertama, andai mereka tidak dibantu oleh 
pihak asing tentu tidak akan terungkap semudah itu. 

Sebagai contoh : alat yang digunakan untuk melacak sinyal hp (yang pada waktu 
itu belum sebanyak sekarang penggunanya) dipakailah alat dari Australia. Waktu itu Polri 
belum punya dan merasa belum perlu menggunakan alat seperti itu, namun karena ada 
kejadian BB 1 itu mereka baru mengupayakan alat tsb. 

CELAH-CELAH YANG MEMBUKA PELUANG TERTANGKAPNYA 
PARA PELAKU BOM BALI 1 DAN YANG SETERUSNYA 

Barang bukti awal yang dimiliki polisi waktu itu adalah : sasis/rangka mobil,sim 
card gsm yang ada dalam hp yang sedianya akan dijadikan pemicu cadangan bom, dan 
motor yang ditinggalkan di sebuah musholla. Berdasarkan barang bukti inilah kemudian 



8 



polisi melakukan penelusuran yang menghasilkan : 

1. Pembeli terakhir mobil L300 yaitu pak Amrozy 

2. Sketsa wajah pembeli motor dan orang-orang yang memakai motor itu 
berikut rumah dimana motor itu sering keluar masuk 

3. Nomor-nomor yang pernah dihubungi oleh sim card yang ditemukan di 
lapangan. Yang di kemudian hari menghasilkan penangkapan terhadap pelaku 
perampokan toko emas Serang dan Imam Samudra. 

Selepas ditangkapnya para pelaku utama Bom Bali 1, polisi mendapatkan banyak 
info tentang jaringan mujahidin Indonesia. Termasuk juga terungkapnya siapa-siapa di 
balik sejumlah serangan bom yang pernah terjadi sebelumnya, mulai dari bom kedubes 
Pilipina, Bom malam Natal 2000, dan Bom Atrium Senen. Ternyata sebagian diantaranya 
mereka jugalah pelakunya. 

Mulai saat itulah perburuan terhadap jaringan mujahidin Indonesia atau oleh 
thoghut disebut sebagai teroris mulai dilakukan secara masif namun tak terlihat oleh 
masyarakat. Pada waktu itu orang yang pernah berhubungan dengan para buronan ( DPO) 
pun bisa dijerat dengan UU Terorisme, meski hanya dengan menerima DPO sebagai tamu 
selama beberapa hari saja. Maka beberapa waktu kemudian thoghut pun panen tangkapan 
besar-besaran. Jaringan yang terungkap pun semakin luas. 

Perburuan terhadap mujahidin yang berdasarkan rasa takut akan meluasnya aksi- 
aksi yang seperti Bom Bali 1 dilakukan dengan cepat, seakan berlomba dengaan para 
mujahidin dalam mempersiapkan serangan selanjutnya. Karena thoghut mulai sadar 
potensi besar mujahidin yang dapat mengganggu jalannya kekuasaan dhalim mereka atas 
bumi kaum muslimin ini. Maka perburuan diutamakan kepada para tokoh-tokoh yang 
pernah terlibat aktif di Ambon, Poso, dan Mindanao. Mereka (thoghut) benar-benar panik 
dan takut, khawatir Bom Bali 1 akan menginspirasi mujahidin yang lain untuk melakukan 
aksi serupa, karena ternyata yang punya kemampuan membuat bom itu sangat banyak. 

Di tengah perburuan itu, tiba-tiba pada bulan Agustus 2003 terjadi serangan 
istisyhad atas Hotel JW Marriot. Mereka pun sibuk mencari-cari dari jaringan mana lagi 
itu. Pola penyelidikan seperti Bom Bali 1 pun diterapkan pada kasus ini. Juga pada kasus- 
kasus setelahnya sampai pada peristiwa Bom Bali yang kedua.Mereka pun kembali panen 
tangkapan. 

Pasca bom Bali 2, terutama setelah syahidnya DR. Azhari, perburuan sedikit 
mengendor atau lebih tepatnya mulai berubah polanya. Mereka mulai melakukan 
tindakan-tindakan pengawasan dan pencegahan, mulai bergerilya masuk ke basis-basis 
pengkaderan dan pembinaan. Semuanya diawasi dengan seksama, karena mereka 
berkesimpulan para pelaku yang jadi DPO itu tidak akan bisa lari dari komunitas yang 
pro dengan aksi mereka. Artinya para DPO itu nanti hampir pasti akan meminta bantuan 
dan perlindungan kepada orang-orang yang punya paham yang sama dengan mereka. Jadi 
aparat thoghut menggunakan cara "memasang jaring ikan" yang di kemudian hari 
ditambah dengan "memasang umpan". 

Pada saat yang hampir bersamaan di Poso aksi-aksi ightiyalat dan peledakan 
mulai marak lagi, yang akhirnya memaksa thoghut untuk bertindak menghabisi 
mujahidin di basis kekuatan mereka yaitu di Tanah Runtuh pada awal 2007. Setelah itu 
ditandatanganilah perjanjian Malino. Dari peristiwa Poso ini menyisakan banyak DPO, 
sehingga jaring yang dipasang pun semakin diperluas. 

Jadi sejak saat itu daftar DPO teroris terdiri dari DPO kasus Bom Bali 1 sampai 



kasus Poso. Dengan semakin banyaknya jumlah DPO maka kemungkinan untuk 
tertangkapnya mereka di dalam komunitas yang pro dengan mereka semakin besar. 
Begitulah yang ada dalam benak thoghut. Maka dihembuskanlah fitnah ke dalam 
lingkungan komunitas pro jihad bahwa para DPO itu jika datang kepada mereka hanya 
akan menyusahkan mereka saja, tidak ikut berbuat kok ikut menanggung akibatnya, jihad 
yang mereka lakukan itu salah karena tidak didukung jamaah, dll dll.... Sehingga ruang 
gerak para DPO ini semakin sempit. 

Ketika semakin sedikit komunitas yang mau menerima DPO maka jaring yang 
dipasang bisa lebih dikonsentrasikan lagi pada kelompok tertentu saja. Strategi ini 
terbukti banyak menuai hasil tangkapan juga. Bahkan syekh Noordin pun hampir 
tertangkap pada beberapa peristiwa penyergapan. 

Namun sepandai-pandai musuh menebar jaring tetap saja ada yang tidak 
terpantau oleh mereka, di sinilah kecerdikan mujahidin teruji. Ketika thoghut telah mulai 
merasa sedikit aman sehingga mulai lengah dari kewaspadaannya selama ini, tiba-tiba 
ada serangan Istisyhadiyah lagi di Hoteel Ritz Carlton dan JW Marriot pada pertengahan 
Juli 2009. Mereka pun panik. Pasalnya kedua hotel itu telah menerapkan standar 
keamanan yang lebih tinggi sejak pasca serangan JW Marriot yang pertama ( 2003), dan 
juga basis-basis pengkaderan telah mereka awasi terus, namun toh bi 'aunillah itu tetap 
terjadi. 

Namun berdasarkan olah TKP dan target serangan, thoghut langsung 
menyimpulkan bahwa ini pasti perbuatan kelompok Noordin M Top ( NMT ). 
Pertanyaannya adalah dari mana dia mendapatkan kader yang diajak bekerja. 

Letak keberhasilan syekh NMT dalam mengelabui musuh di antaranya adalah 
karena beliau disiplin untuk tidak berhubungan dengan kelompok-kelompok yang telah 
diidentifikasi oleh musuh, beliau mencari kader-kader baru yang masih bersih. Tapi 
akhirnya taqdir ALLOH menentukan bahwa ada celah kelemahan dari orang-orang yang 
beliau rekrut, yaitu ketika aparat menyatakan dalam salah satu keterangan persnya bahwa 
no hp yang digunakan untuk memesan kamar 1808 Hotel Ritz Carlton masih sempat aktif 
pada sore hari pasca serangan. Selain rekaman CCTV dalm beberapa hari terakhir, aparat 
thoghut juga mendapat petunjuk yang sangat berharga dari aktifnyya nomor hp pemesan 
kamar 1808. Maka terjadilah apa yang terjadi kemudian...serangkaian penangkapan dan 
penyergapan yang akhirnya membuat syahidnya beberapa ikhwan kita termasuk syekh 
NMT rahimahulloh. 



TERBONGKARNYA PROGRAM IDAD ASKARY ACEH 

Tak lama dari pasca terjadinya amaliyah Ritz Carlton-JW marriot (utk 
selanjutnya kami menyebutnya dgn kode 170709), perencanaan i'dad Aceh juga pun 
sedang dimulai. Bahkan sebenarnya sudah dimulai sejak bulan April 2009, atau 3 bulan 
sebelum Bom Ritz Carlton meledak. Kami tahu karena kami juga ditawari untuk ikut 
didalamnya sedari awal. beberapa ikhwan di antara kami akhirnya ada yang memutuskan 
untuk ikut (dan akhirnya mereka ada dalam tawanan thoghut saat ini). Dan tahukah 
antum bahwa sebenarnya pengiriman peserta i'dad gelombang pertama pada mulanya 
direncanakan pada awal bulan Juli 2009 namun karena adanya peristiwa Ritz Carlton itu 
maka semuanya ditunda. namun persiapannya terus dilakukan. Termasuk Rekrutmen dan 



10 



penggalangan dana yang semakin digencarkan. 

Di sinilah titik awal celah kelemahan dari proyek I'dad Aceh bermula. Ketika 
aparat thoghut sedang gencar-gencarnya mengawasi setiap orang yang kumpul-kumpul 
dan menyadap setiap telepon dari kalangan tertentu, dan agen-agen deradikalisasi mereka 
sedang digalakkan untuk meredam, ikhwan-ikhwan yang sedang memepersipkan proyek 
i'dad itu masih tetap terus bekerja seperti biasa. Sehingga rencana proyek ini mudah 
tercium oleh aparat thoghut. Beberapa kelemahan yang terjadi selama masa persiapan dan 
pemberangkatan dalam proyek Aceh ini yang kami ketahui dengan valid di antaranya sbb 

Rekrutmen yang terlalu terbuka dan terkesan tergesa-gesa tanpa proses seleksi 
yang memadai 

kesalahan ini terjadi karena waktu itu kita berpikirnya bahwa itu kan 
hanya i'dad, tak perlu keahlian awal. Yang penting punya azzam dan sanggup 
meninggalkan keluarganya. Tidak terpikirkan bagaimana latar belakang dan kondisi 
keluarga yang ditinggal, siapa yang akan mengurusnya selama tadrib berlangsung, dst 
dst. sehingga para istri yang ditinggal yang kurang siap, dengan mudah bercerita kepada 
orang terdekatnya karena kondisinya yang memang sedang terlantar. dan celakanya orang 
terdekatnya ini adalah orang yang berada dalam sebuah tandhim atau komunitas yang 
tidak setuju dengan adanya i'dad semacam itu. Dan informasi seperti ini sudah cukup 
bagi thoghut untuk bisa melokalisir sang mujahid. karena dalam tandhim yang tidak 
setuju itu sudah bercokol para da'i deradikalisasi, sehingga mudah saja bagi thoghut 
untuk mengetahuinya. 

2. Standar Keamanan Informasi Program 

Yang kami tahu di lapangan, ternyata orang-orang yang tidak berangkat 
ikut tadrib/ i'dad Aceh tau kalo ada program ini. Ini kesalahan fatal. Entah dari mana 
mereka tahunya. Semestinya orang yang tidak berangkat tidak tau tentang program ini, 
hatta sebenarnya istri pun tidak boleh tau. Menurut analisis kami kemungkinan mereka 
tau adalah dari pintu-pintu berikut : pada waktu rekrutmen, penggalangan dana, dan 
keberangkatan. 

3. Penggunaan Alat Komunikasi yang tidak sesuai dengan 
kepentingannya 

Menurut cerita dari salah seorang syaikh -beliau ini tokoh yang sangat 
dikenal oleh thoghut atas kapasitasnya sebagai ust jihady-, beliau pernah ditelpon oleh 
salah satu penggerak proyek Aceh-yang telah syahid insya ALLOH- untuk meminta 
bantuan dana atau link pendanaan via telpon rumah. sekali lagi via telpon rumah seorang 
tokoh yang sudah masyhur keistiqomahannya dalam da'wah wal Jihad. Waktu itu itu 
beliau marah kepada si penelepon, beliau berkata : " ya akhi, bukannya ana ga bisa bantu 
antum, tapi cara yang seperti ini jika misalnya tidak dapat apa yang antum butuhkan, 
maka bencana lah yang akan terjadi. Masih mending jika antm dapat apa yang antum 
perlukan. Itu pun tetap ada negatifnya, yaitu terbongkarnya proyek antum. Kayak antum 
tidak paham posisi ana aja". Walaupun akhirnya beliau tetap memberikan bantuan tapi 
dengan cara beliau, namun akibat dari telpon itu lokasi si penelepon jadi diketahui. 
akhirnya qodarulloh,sang penelepon ini akhirnya memperoleh kesyahidan-insya Alloh 
karena ada banyak tanda-tanda kesyahidan pada jasad beliau-. Mari kita mengambil 
pelajaran darinya. tentunya kita semua telah paham bagaimana berbahayanya sebuah alat 
komunikasi jika salah dalam penggunaannya. 



11 



Semua kesalahan di atas dilakukan di tengah gencarnya thoghut menyadap 
dan mengawasi setiap hal-hal yang mencurigakan pasca peristiwa 170709. Seolah-olah 
tidak tahu akan hal itu, dengan tenangnya melakukan kontak telpon sana sini 
membicarakan soal pendanaan dan lain-lain, mengunjugi komunitas-komunitas yang 
sedang dalam pengawasan untuk melakukan perekrutan dst...dst... 

4. Kesalahan Memilih Tempat Dilakukannya Program 

Meskipun ada di bagian atas pegunungan Jantho, tapi masih ada masyarakat 
yang beraktivitas di sekitar tempat tadrib. Masyarakat Aceh sangat anti dengan orang 
asing terutama yang berasal dari Jawa dan masih menyimpan trauma akibat penerapan 
DOM Aceh. Padahal interaksi dengan masyarakat tidak bisa dihindari, minimal ketika 
mencari kebutuhan logistik seperti membeli sembako, pulsa, BBM, dll. 

Selanjutnya akan kami paparkan bukti-bukti bahwa thoghut memang sedang 
gencar-gencarnya melakukan pengawasan dan penyadapan pada waktu itu. 

Bukti yang pertama : 

Kisah salah seorang ikhwan kami yang sedang dalam sijn thoghut bercerita 
tentang bagaimana dia diinterogasi kepada ikhwan yang membesuknya. berikut ini adalah 
petikan kisahnya kepada ikhwan yang besuk dengan gaya bertutur: 

'Akhi, ada satu hal yang sangat mengejutkan ana pada waktu diinterogasi oleh 
penyidik thoghut, yaitu ditunjukkannya foto-foto ana waktu datang ke rumah antum dua 
atau tiga bulan sebelum ana berangkat ke Aceh. Antum juga terlihat dalam foto itu sedang 
bersama ana di suatu tempat. Trus penyidik bertanya kepada ana : Kamu ke rumah orang 
ini dalam rangkaa apa ? Mau minta dana buat berangkat ya ? bla bla bla....". Padahal 
waktu itu ikhwan tsb hanya silaturrahim biasa, namun karena memang dia berasal dari 
kota lain yg jauh dari ikhwan yang besuk itu, maka ia pun lantas diambil gambarnya. 
Darii kisah ini, kita tahu betapa thoghut itu mengawasi sebuah komunitas di suatu 
wilayah. 

Bukti yang kedua : 

Secara tidak sengaja, qodarulloh salah seorang ikhwan kami mendengar cerita 
seseorang di warung yang punya kakak seorang anggota Densus 88 la'natulloh bahwa 
kata kakaknya yang jadi Densus itu, semua telepon dari Aceh dan Sumut ke Jawa akan 
tersadap otomatis setelah 1 menit percakapan dan dalam 5 menit lokasi dari penelepon 
akan terlacak koordinatnya. Hal ini sudah dilakukan sejak beberapa pekan sebelum 
program i'dad Aceh terbongkar/ diserbu aparat thoghut. Jadi jangan heran ketika kamp 
i'dad di Pegunungan Jantho diserbu, di Jawa terjadi banyak penangkapan dan 
penembakan terhadap beberapa ikhwan kita.Hampir semuanya tertangkap disebabkan 
hasil operasi dari dua cara di atas, pengamatan dan penyadapan alat komunikasi. 



TERBONGKARNYA KELOMPOK MUJAHIDIN MEDAN KARENA 
KASUS OPERASI FAT / GHANIMAH DI BANK CIMB NIAGAMEDAN. 

Berikutnya kami akan ceritakan bagaimana terbongkarnya kelompok mujahidin 
Medan yang sebenarnya sedang mempersiapkan sebuah operasi perang gerilya kota 
dengan berbagai modus serangan, yang pada waktu itu baru pada tahapan mengumpulkan 
harta dan kaderisasi personel sebagai bekal memulai sebuah operasi di mana kami juga 



12 



terlibat di dalamnya. Karena sedari awal kami berpendapat bahwa stategi perang yang 
paling pas untuk diterapkan di negri ini adalah gerilya kota. Karena yang ingin dikerjakan 
adalah gerilya kota, maka latihannya pun di kota. 

Untuk diketahui dari awal, di Medan ada beberapa kelompok aktivis jihady. Ada 
aktivis ilmiyah dan ada aktivis amaliyah. Aktivis amaliyah sendiri ada dua kelompok 
yaitu : yang pertama kelompok yang masterplan amaliyahnya hanya bersiiat jangka 
pendek dan yang kedua kelompok yang masterplan amaliyahnya bersifat jangka panjang. 

Dua kelompok ini sebenarnya saling mengenal dan sama-sama beroperasi di kota 
yang sama, namun dalam beberapa hal mereka berbeda pendapat dan berbeda dalam 
langkah kerja dan strategi di lapangan. Kelompok yang pertama berpendapat bahwa 
amaliyah perang gerilya kota harus segera dilakukan secepatnya untuk membalaskan 
darah mujahidin indonesia yang telah ditumpahkan oleh thoghut dengan semena-mena 
dengan personel yang telah ada (kebetulan jumlah mereka lebih besar jika dibandingkan 
kelompok kedua). Tinggal dicarikan dana operasional dan kebutuhan logistiknya. Mereka 
tidak sampai memikirkan tentang kelanjutannnya di masa yang akan datang, dimana 
dibutuhkan tambahan personel baru yang tentunya memerlukan perekrutan dan pelatihan. 
Pokoknya bertempur bersama sampai habis. berbeda dengan kelompok yang kedua yang 
mempunyai masterplan jangka panjang, yang juga merancang tentang bagaimana 
melakukan pelatihan dan perekrutan yang berkesinambungan di samping juga memulai 
amaliyah gerilya kota. kelompok yang kedua ini cenderung lebih rapi dalam setiap 
pekerjaan mereka, karena mereka menganut madzhab rapi,efektif dan efisien. mereka 
menyadari bahwa personel mujahid pada hari ini semakin sulit dicari, jadi jangan 
mengumbar tenaga sembarangan, semua harus diperhitungkan dengan matang. 

Itulah perbedaannya. kesamaannya adalah sama-sama melakukan operasi fa'i 
untuk memperoleh dana operasional. Kelompok yang pertama adalah kelompoknya akhi 
Taufiq-rahimahulloh- yang melakukan operasi fa'i di Bank CIMB Niaga Medan yang 
menghebohkan itu, dan kelompok kedua adalah kelompok dimana kami ikut di 
dalamnya. 

Anggota kelompok pertama mayoritas adalah orang lokal, sementara kelompok 
kedua sebaliknya, lebih banyak yang dari luar. 

Kelompok pertama punya kelebihan lebih mudah berbaur dalam masyarakat, 
namun kurang rapi dalam pekerjaan. Kelompok kedua lebih rapi dalam pekerjaan namun 
anggotanya sulit berbaur dengan masyarakat sehingga dapat menimbulkan kecurigaan 
jika sedikit saja kurang pandai beralibi. Operasi fa'i yang dilkukan kelompok kedua 
biasanya hanya dilkukan 2-4 orang saja, jadi polisi melihatnya sebagai kriminal biasa, 
namun polisi mencurigai keberadaan mereka di tempat yang dijadikan markas. Jadi pada 
kelompok yang kedua polisi lebih mencurigai keberadaannya daripada amaliyah fa'inya. 
Sementara kelompok yang pertama dalam beraksi sering melibatkan lebih banyak 
personel dengan perlengkapan yang lebih lengkap daripada kelompok pertama, sehingga 
polisi mencurigai mereka adalah bukan pelaku perampokan biasa. Nah disinilah 
kecurigaan polisi bahwa ada kelompok perampok yang bukan biasa yang beroperasi di 
wilayah medan dan sekitamya menjadi semakin klop. Di satu sisi ada orang-orang asing 
yang mencurigakan, dan di sisi lain ada perampokan yang tidak wajar. Jadi, kalo mau 
dicari siapa yang salah, maka kedua kelompok punya kadar kesalahan yang sama. 

Apalagi jika melihat sejarah kelompok yang kedua, pada awal-awal masa 
pembentukan thoifah, ada salah satu anggota kelompok kedua yang dijebak oleh polisi 



13 



dalam kasus penganiayaan seorang anggota Jamaah Tabligh, namun dalam interogasi 
yang ditanyakan adalah kenapa kamu ada di sini, kamu kan orang dari kota S di Jawa ? 
Ini kami punya bukti foto-foto kamu waktu dalam perjalanan menuju kemari. Alangkah 
terkejutnya ikhwan kami itu ketika ditunjukkan foto-foto yang dimaksud. Padahal dia 
hanya memberitahukan perihal keberangkatannya kepada satu orang saja yang 
menurutnya adalah seorang ikhwan senior, seorang ustadz. Untunglah dalam persidangan 
yang bisa didakwakan hanya pasal penganiayaan sehingga tak berapa lama ikhwan ini 
pun bebas. Tak lama setelah bebas dia termasuk yang ditembak mati oleh Densus 88 
la'natulloh dalam sebuah penyergapan terhadap mujahidin CIMB Niaga. 

Nampaknya semakin kuatlah bukti bahwa ada kelompok mujahidin (teroris 
menurut thoghut) yang beroperasi di Medan dan sekitarnya setelah adanya drama 
perampokan Bank CIMB Niaga yang dilakukan oleh kelompok pertama. Sehingga perlu 
diturunkan Densus 88 untuk mengungkapnya. Kelompok kedua baru yakin bahwa 
pelakunya adalah kelompok yang pertama ketika datang utusan mereka kepada kelompok 
kedua untuk meminta bantuan agar ditunjukkan jalur pelarian yang aman. Maka sebagai 
saudara seiman kelompok yang kedua pun membantu semampu mereka meski ada 
kekecewaan terhadap apa yang telah mereka lakukan yang menurut mereka terlalu 
berlebihan. Mereka tunjukkan rute-rutenya dan cara melewatinya. Pada praktieknya, 
kelompok pertama ( CIMB Niaga) memakai rute yang mereka tunjukkan namun tidak 
memakai cara untuk melewatinya. Ikhwan-ikhwan Kelompok kedua menyarankan agar 
melewatinya dua motor dua motor dengan interval waktu tertentu, namun kawan-kawan 
CIMB Nlaga ini melewatinya bersama-sama 6 atau 8 motor sekaligus sehingga 
mengundang kecurigaan warga. Maka terjadilah apa yang terjadi kemudian, mereka 
disergap di sepanjang tepian sungai di Dolog Masihul dan menyebabkan sebagian besar 
mereka syahid-semoga ALLOH menerimanya-. Ikhwan-ikhwan di kelompok kedua yang 
kemudian harus terpaksa ikut hijrah hanya bisa menangis menyaksikan jasad-jasad 
mereka di media massa. Kelompok yang kedua pun akhirnya porak poranda, berpencar 
kemana-mana menyelamatkan diri. 

Ya Alloh ampunilah kami...sungguh ini pelajaran yang sangat berharga bagi 
kami... Kami masih lemah, kami terlalu memaksakan diri, namun kami tetap bersyukur 
atas apa yang telah terjadi pada kami. 



SECUIL KISAH DERADIKALISASI DAN INFILTRASI PADA SEBUAH 

TANDHIM JIHAD 

Berikut ini kami kisahkan sebuah kisah dan analisa dari salah seorang ikhwan 
kami tentang bagaimana sebuah tandhim jihadi (maaf kami akan sebut nama tandhim tsb 
karena kami rasa semua aktivis jihadi pun sudah tahu nama tandhim itu) dan 
keberadaannya sudah terbukti baik oleh karena ulah musuh maupun pernyataan tokoh- 
tokohnya. Ikhwan ini adalah salah satu pelaku sejarah dan juga salah satu yang kecewa 
dan bersedih menyaksikan kenyataan yang terjadi dalam tandhim tsb. Tandhim Jihad itu 
bernama Jamaah Islamiyah ( JI ). Berikut penuturan ikhwan tersebut sebagaimana pernah 
ia sampaikan pula dalam sebuah forum jihad di internet dengan sedikit perubahan namun 
tidak menghilangkan substansinya. Risalah dari ikhwan ini dibuat sekitar satu atau dua 
bulan pasca terbongkarnya Sariyah Aceh. Berikut kisahnya : 

Bismillahirrohmanirohiim. . . . 



14 



Pada salah satu kolom diskusi, saya menyampaikan analisa tentang fenomena di balik 
kemunculan fikroh Mr. M di tubuh SEKOLAH-SEKOLAH JI, dan apa yang 
melatarbelakanginya... Inilah kisah dan analisa ana, hasil pengalaman ana selama berada 
di tengah-tengah komunitas JI, dan semoga Allah menyelamatkan ana dari kerugian di 
dunia dan akhirat...semoga analisa ini sedikit membantu kita untuk memahami SIAPA 
SEBENARNYA Mr. M LC dan BAGAIMANA IA BISA MUNCUL...karena saya 
yakin...telah muncul Mr.M - Mr.M LAINNYA, SEBAGAI ZOMBIE-ZOMBIE YANG 
DIPRODUKSI OLEH AGEN-AGEN DERADIKALISASI MUJAHIDIN...SEMOGA 
ALLAH MELINDUNGI UMAT DARI MEREKA DAN SEMOGA KEKHAWATIRAN 
INI TIDAK MENJADI KENYATAAN. Semua berawal dari sebuah lembaga pendidikan 
yang merupakan suatu kesatuan sistem: 

1. sistem pengajaran 
2.sistem ketatapamongan 

3. sistem kesiswaan. 

4. sistem pendanaan dan manajerial umum. 

Keempat sistem tersebut saling mendukung, karena An-Nur, Darusy-Syahadah dan 
lainnya adalah sebuah LEMBAGA PENDIDIKAN. bukan proses kursus privat antara 
seorang murid dan seorang guru, atau guru dengan beberapa gelintir murid belaka. 
Kehancuran yang sekarang terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan JI, berakar pada 
kasus-kasus lama (sejauh diskusi, investigasi dan wawancara dengan tokoh internal 
maupun mantan internal) yang hari ini masih hidup (dan sebagian buron). Rincian kasus- 
kasus tersebut adalah sebagai berikut: 

1. Kondisi Mantigi II. yang memiliki sifat khas berbeda dibanding dengan Mantigi 
I dan Mantigi III 

Mantiqi II (Indonesia), adalah kantong perkaderan terbesar bagi Jamaah Islamiyah. ia 
hidup dan besar dalam keadaan tertekan oleh kekuatan orde baru. sistem perkaderan 
tersembunyi, kehati-hatian yang besar telah berakibat posisif dan negatif...akibat 
positifnya kader dalam jumlah banyak telah terpenuhi. akan tetapi, akibat negatifnya 
terbangun suatu keadaan jiwa komunitas yang berdiri di atas ketakutan dan kewaspadaan 
yang berlebihan terhadap THOGHUT 

sikap ini didukung oleh 2 faktor Pertama: berbagai keberhasilan pengiriman dan 
pengkaderan mujahid dalam tandhim sirri yang terbentuk dan terkelola dengan penuh 
kewaspadaan, dan 'ketakutan' terhadap thoghut. Kedua: Keterbatasan Ilmu dan tidak 
Jelasnya Manhaj dan Aqidah JI, terutama dalam Al-Wala' wal Bara', Minhaj At-Takfir. 
sehingga pada periode dakwah, khususnya tahun-tahun 1997-2001 terdapat catatan 
sejumlah kader maupun binaan JI, yang pindah ke PKS dan Salafi. 
MESKIPUN PASCA KERUSUHAN AMBON DAN MALUKU, sebagian besar anggota 
JI baik yang muda maupun tua, mulai tersadar kembali untuk apa mereka berjamaah 
(yakni untuk menegakkan bendera jihad dan menegakkan daulah Islamiyah di 
Indonesia)~> terbukti dengan terlibatnya mayoritas anggota JI di berbagai wilayah 
konflik di Indonesia-wa//iamdu/z7/a/j. 
Akan tetapi, PASCA OPERASI TEROR dan munculnya fitnah Teroris pada diri Mujahid, 



15 



telah berhasil membangkitkan kembali, kondisi psikologis masa lalu dalam jiwa JI, 
selanjutnya, JI sebagai sebuah komunitas kembali terbentuk sebagai sebuah jamaah yang 
terlalu takut salah langkah, yang bersembunyi, diam-diam. Kondisi ini kemudian 
mempengaruhi pola pikir para pemimpinnya yang bernostalgia untuk membangun 
kembali kejayaan JI pada tahun-tahun 1995-2001. 

Parahnya, hilangnya atau ketiadaan para pemimpin senior yang telah berjibaku di ranah 
jihad, kondisi mantan pemimpin JI eks-penjara yang menjadi munafik, dan tidak adanya 
komunikasi yang baik antara para anggota dan pemimpin muda JI dengan "Sang Amir" 
sebenamya, membuat mereka mengalami keputus-asaan untuk tetap berada di atas 
manhaj dakwah wal jihad serta menegakkan bendera tauhid. 

Keputus asaan itu kemudian mengarah pada koreksi atas manhaj yang selama ini mereka 
yakini sendiri...yang berujung pada berubahnya pola kata, pola pikir dan pola sikap para 
ustad-ustadz JI, termasuk sistem pendidikan Tarbiyah Rosmiyah yang selama ini mereka 
bangun. 

Mantiqi II barangkali hanyalah salah satu mantiqi dari mantiqi-mantiqi yang ada, akan 
tetapi ia adalah Mantiqi terbesar dan terbanyak anggotanya, dan ketika Mantiqi I dan 
Mantiqi III ditutup, jadilah wilayah Mantiqi II sebagai satu-satunya wilayah JI yang 
paling besar, dan jumlah mayoritas anggota Mantiqi II, yang sayangnya...sangat kuat 
taklid dan ketaatannya pada para pemimpin Mantiqi II, begitu mewarnai kondisi JI ke 
depannya. 



2. Kondisi dan Kebutuhan Lapangan lembaga-lembaga pendidikan JI 

SEMUA LEMBAGA pendidikan membutuhkan adanya pendanaan, meskipun sebenarnya 
lembaga pendidikan JI, terkenal sebagai ponpes-ponpes sederhana tetapi berhasil 
melahirkan kader-kader terintegritas dan 'hebat' secara fisik maupun mental. akan tetapi, 
dengan adanya gempuran opini SEKOLAH KADER TERORIS, kunjungan ANJING- 
ANJING THOGHUT untuk menginterogasi, mengawasi dan bertanya tentang kurikulum, 
arahan pengajaran. Bahkan, penggeledahan paksa sejumlah ponpes JI, menyisakan 
traumatisme tersendiri dan beban berat bagi Jamaah yang notabene telah terbebani 
dengan aset-aset seperti ponpes, sekolah Islam dan sebagainya. 
Yang mengakibatkan JI harus mengubah sistem pendidikan dan arah kader-kader yang 
dihasilkan agar bisa bertahan di era perang teror— yang bagi jiwa-jiwa seperti komunitas 
JI hari ini~seperti pada ulasan poin 1 di atas terasa SANGAT KERAS... 
maka lahirlah orang-orang seperti Mr M, dan sebagainya, demi menghindari hal-hal yang 
ditakutkan oleh kalangan qiyadah mereka.. 

3. Keberadaan para tokoh Oiyadah yang ingin melanggengkan status Quo. 

Sebenarnya, saya tidak akan menulis poin ketiga ini...jika bukan karena adanya 
keterangan terperinci tentang persoalan ini dari seorang tokoh Markaziyah di era 
tersebut-semoga Allah menyelamatkan dan menjaganya-, tentu saya tidak akan 
menuliskannya dalam forum ini. 

Maksud dari status quo ini adalah kelanggengan posisi qiyadah JI Mantiqi II (semoga 
saya salah) dan kelanggengan aset-aset JI, yang sudah terlanjur membebani jamaah. 
sebenamya fenomena ini sudah lama, bahkan telah terjadi saat markaziyah masih berada 



16 



di Malaysia. akan tetapi, semua itu hanya disikapi sebagai riak-riak kecil dalam 

kehidupan berjamaah, sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib r.a, "Kekeruhan dalam 

berjamaah itu adalah lebih baik, daripada Kehebatan dalam kesendirian." 

Bahkan, fenomena tersebut barangkali tidak akan sampai merugikan Islam, manakala 

persoalannya tidak sampai memberikan madharat pada urusan jihad. Paling tidak, ada 

tiga peristiwa besar: 

a. Penolakan pengiriman mujahidin ke Ambon 

Benar, semua berawal dari terjadinya kerusuhan Maluku, Ambon dan sekitarnya... 

(terlepas dari benar tidaknya sinyalemen dewan pimpinan Mantiqi II pada waktu itu yang 

mengatakan bahwa tragedi Ambon hanyalah rekayasa Intelijen untuk memancing 

keluarnya JI ke permukaan). 

Pada waktu itu, Ustadz Abdullah Sungkar rhm, setelah mempelajari dan menerima semua 

informasi terkait peristiwa Ambon dan Maluku...mengirimkan surat perintah Amar 

keputusan kepada MANTIQI II, untuk mengirimkan segala SUMBERDAYA JIHAD 

YANG DIBUTUHKAN UNTUK MEMBANTU UMAT ISLAM DI AMBON. 

Surat perintah ini akhirnya sampai ke Indonesia, akan tetapi!! jangankan menaati 

surat perintah tersebut secara langsung...majelis pimpinan Mantiqi II, justru malah 

sibuk membahas apakah surat tersebut perlu dilaksanakan ataukah tidak...secara tidak 

sopan (dan tentunya..bagi mereka yang telah hidup berjamaah dan mengetahui prinsip- 

prinsip dalam amal jama'i akan merasakan ketidaksopanan ini), mereka justru 

mengembalikan surat perintah tersebut ke Markaziah Malaysia dan meminta di 

adakannya majelis fatwa untuk menentukan fatwa bolehkah berperang di Ambon. 

Kejadian tersebut, kemudian menyulut kemarahan besar ustadz Abdullah Sungkar rhm 

yang saat itu tengah menderita penyakit jantung. Betapa tidak? Jelas-jelas umat Islam 

disembelih dan diperkosa seenaknya oleh orang Kristen...tetapi malah masih menunggu 

dewan fatwa... 

Kemudian Amar Perintah tersebut dialihkan kepada 2 orang ustadz yang hari ini salah 

satunya terpenjara di penjara thoghut Internasional, sedangkan satunya lagi dalam 

keadaan DPO. 

Kedua ustadz tersebut merupakan di antara anak-anak jamaah yang terbaik dan putra- 

putra umat Islam yang saat itu telah teruji kesabaran dan ketaatannya. mereka berdua 

akhirnya masuk ke Indonesia dan mengumpulkan sisa-sisa kader JI yang ada dan yang 

tidak digunakan di struktur JI Indonesia, untuk kemudian dilatih dan diberangkatkan 

berjihad di Ambon...saat itu belum ada satupun umat Islam yang membantu kaum 

muslimin di Ambon. 

Demikianlah, setelah kemudian banyak umat Islam yang berjihad di Ambon, tokoh-tokoh 

penolak amar perintah tersebut pun secara malu-malu mendukung jihad Ambon (salah 

satu gambarannya simak rekaman ceraman akhi asy-syahid Urwah, tentang Abdullah 

Manaf-semoga telah bertaubat-). 

Berkenaan dengan mereka, seorang ikhwah alumni penjara Kerobokan Bali, yang satu 

blok dengan syaikh Mukhlas pernah berkata, "Syaikh Mukhlas berkata, 'Mereka ini... 

masya Allah... jinggo-jinggo ini pada rebutan roti.' Demikianlah kisah syaikh Mukhlas. 

Pada waktu itu, fitnah ini belum berakibat menjalar hingga ke lembaga pendidikan seperti 

sekarang, waktu itu pondok-pondok JI di wilayah Indonesia sedang dalam masa-masa 

keemasan, Ma'had Aly An-Nur tengah menggodok kader-kader seperti ustadz Ubaid, 

ustadz Urwah, ustadz Mutsanna, dan lain-lainnya. Darus-syahadah juga dalam fase 



17 



radikal-radikalnya apalagi didukung oleh gegap gempita dan euioria umat Islam untuk 

membela kaum muslimin di Ambon dan Poso. 

Namun sekarang, kita telah melihat bagaimana mereka beraksi. . .semoga Allah 

menyadarkan mereka dan menjadikan mereka sebagai ahlul jihad dan mujahid yang 

mukhlis dan semoga seluruh prasangka buruk saya terhadap mereka adalah salah. . . 

b. Penolakan untuk menjadikan Poso sebagai prototipe proyek basis jihad. 

Bagi para pemerhati perang teror yang hari ini terus berlanjut, pasti pernah mendengar 

adanya Proyek Badar di daerah Poso yang dimulai pada tahun 2000 dan diakhiri tahun 

2002. Benar, proyek ini memiliki tujuan: 

l.Menyelamatkan kaum muslimin yang tersisa di Poso 

2.Melatih dan membina umat Islam di Poso 

3.Menghancurkan kekuatan Salibis di Poso 

4.Menegakkan Basis Jihad di Poso. 

Tujuan nomor 1, 2 dan 3 telah dijalankan dengan semaksimal mungkin. Kemudian, ketika 

masyarakat Poso telah terbina, terlatih dan terbentuk kesadaran untuk bertauhid dan 

menegakkan Daulah Tauhid yang melindungi hak-hak kaum muslimin, dimulailah proyek 

untuk menegakkan basis jihad di Poso. Pada waktu itu, pimpinan proyek ini sempat 

mengatakan kepada Qiyadah Markaziyah JI (yang saat itu telah berpindah ke Indonesia), 

untuk mengoptimalkan dakwah wal jihad di Poso dan menjadikan Poso sebagai prioritas 

potensi dakwah wal jihad di Indonesia (saya menangkap penjelasan tersebut sebagai 

ajakan untuk menegakkan Daulah Islamiyah di Poso). 

Akan tetapi, apa jawaban Qiyadah Markaziyah JI, yang telah terwarnai oleh Mantiqi II 

ini? Mereka menjawab, "Kita akan memulainya di pulau Jawa, kita akan menegakkan 

negara Islam di Jawa." Demikianlah, selain terjebak pada beban-beban aset jamaah, 

mereka juga terjebak untuk terpaku pada aspek-aspek kedaerahan dan enggan berhijrah. 

Padahal, Bumi Allah itu luas, dan Rasulullah sebenarnya tidak pernah berencana 

untuk berhijrah ke Yatsrib (Madinah), beliau justru menuju Tsaqif, dan tempat- 

tempat lain yang justru masyarakat setempat menolak dakwah beliau saw. Tetapi 

Allah kemudian membukakan tempat di Yatsrib dan Rasulullah pun berhijrah ke 

sana. 

Saya berpendapat, "Seandainya seluruh potensi JI difokuskan di Poso, tentulah peristiwa 

2007 (pertempuran MUJAHIDIN vs Densus 88-Mabes Polri) dapat dimenangkan oleh JI, 

dan saya bahkan berangan-angan diproklamirkannya negara Islam yang tegak di atas 

manhaj dakwah wal jihad di Poso!!" 

Saya berani berpendapat demikian, karena saya adalah mantan anggota JI, saya tahu 

bahwa JI sebenarnya adalah sebuah TANDZHIM JIHAD, dengan SISTEM 

PEMBINAAN JIHAD, berisi KADER-KADER JIHAD. Yang jumlahnya buaaanyaaak. . . 

Tetapi. . .yaa. . .begitulah. . .karakter Mantiqi II tersebut menjadi begitu meresap ke dalam 

urat daging kader-kadernya, mereka begitu tunduk dan patuh tanpa reserve (meski ini 

bagus), dan tidak akan terjadi kasus seperti di Boyolali, ketika ada kader JI dipukuli 

preman, tidak ada satu orang ikhwah pun yang membantu dengan alasan. . .takut dituduh 

teroris!!! 

c. Penolakan untuk menolong para muhajirin dan mujahidin dalam perang teror. 

Untuk poin c ini, saya tidak akan terlalu banyak menulis. . .sudah banyak yang 

mengkritisi dan menganalisanya. . . Ust Urwah -rhm telah menulisnya dalam rangkaian 

tulisan Risalah wa Nida'atnya dan juga Ust Abdul Barr al Harby -fakkAllohu asrah- 



18 



dalam risalah " Maka Pergilah Bersama Rabbmu" telah banyak mengisahkan tentang hal 
ini. 

Sebenarnya saya ingin membongkar habis Jamaah Islamiyah yang hari ini telah 
berhasil secara SUKSES di INFILTPvASI dan di JINAKKAN oleh THOGHUT 
LAKNATULLAH. 

1. Alasan saya untuk mengungkap nama-nama lembaga pendidikan JI tersebut, tidak 
lebih karena tema yang dibahas (khususnya pada thread tersebut) adalah tentang pondok 
pesantren, dan arah diskusi pun (wa bil khusus) tentang kegelisahan para ikhwah, 
khususnya para mujahid dan pendukung jihad terhadap sepak lancang mulut si Mr M., 
sehingga saya sebagai orang yang pernah duduk, memikirkan dan melakukan kerja-kerja 
amal jama'i di tubuh JI, pun menjadi gelisah dan setelah saya datangi lembaga-lembaga 
pendidikan tersebut serta berdiskusi dengan sejumlah pengajar dan direkturnya, 
PAHAMLAH saya bahwa persoalannya memang, hanya melanjutkan kisah kesalahan 
sejarah masa lalu JI yang sudah saya uraikan. 

2. Ojyadah Aceh dan markaz tadrib yang berlangsung di sana merupakan bentuk rahmat 
Allah dan jawaban atas doa para mujahid hari ini, (meski saat ini sedang mengalami 
ujian). Ia merupakan gabungan dari berbagai jamaah (walhamdulillah) dan juga sebagian 
eks-askar JI dan para kadernya. (Semoga Allah menolong mereka, meneguhkan mereka, 
menyelamatkan mereka dan mengizinkan terbentuknya mu'askar yang lebih kuat, 
tangguh dan terlindungi di bumi Allah ini.) 

3. Saya pribadi secara jujur mengakui bahwa SAYATIDAK MENGETAHUI SECARA 
TERPERINCI KAPAN, DI MANA DAN BAGAIMANA REKAMAN TADRIB ACEH 
itu DISUSUN. Hanya saja, kalau saya boleh berpendapat, hendaknya kita memaklumi 
bahwa ungkapan ikhwah dalam rekaman tersebut yang menyindir habis JAMAAH 
ISLAMIYAH, merupakan cerminan kesedihan, kegemasan dan kegeraman (yang 
sebagaimana juga saya rasakan saat ini) atas kondisi BEKAS JAMAAH JIHAD 
TERKUAT itu... 

4. Saya bukan orang JAT karena saya sendiri tidak terbiasa dengan sistem tandhim jahr. 
meski dakwah adalah sebuah keharusan. saya juga tidak tahu, apakah ada orang JAT 
dalam rekaman itu, atau di tempat tadrib itu. 

5. Abu Dujanah (Semoga Allah membebaskannya), adalah orang yang saya segani...kalau 
antum tidak tahu siapa Abu Dujanah, sebaiknya antum tidak usah terlalu banyak 
berkomentar tentangnya. Dia adalah teladan dalam ketaatan dan jihad (semoga Allah 
tetap menjaga ke-tsiqoh-annya di balik jeruji besi). Hanya saja memang, ABU 
DUJANAH TIDAK PERNAH MENDUKUNG GERAKAN JIHAD YANG DIRINTIS 
OLEH AL-MUJAHID, ASY-SYAHID NOORDIN M. TOP Seingat saya, ada beberapa 
orang yang diutus oleh JI, untuk menghentikan sepak terjang Noordin, termasuk ASY- 
SYAHID QOTADAH. 

Tetapi, pada akhirnya hampir semua kemudian mendukung atau minimal 
mendiamkannya. bagi saya, ketidak berpihakan akhi Abu Dujanah, masih menjadi 
misteri... 

Kita senantiasa berharap agar persoalan dalam tubuh JI segera selesai, wa bil 
khusus adalah semoga fikroh kebenaran dan kebaikan yang dulu pernah mereka bawa 
bisa kembali seperti semula (Menjadi Jamaah Jihad yang Kuat lagi Kokoh) lagi Respek 
dan bertanggung jawab pada kondisi umat DENGAN MENEGAKKAN JIHAD DI 



19 



BUMI ALLOH-INDONESIA, bukan malah lari meninggalkan umat. 
Saya tidak ingin menjelek-jelekkan lembaga pendidikan JI, hanya saja memang kalo 
antum mau mempesantrenkan putra-putri antum ke lembaga pendidikan JI saya 
persilahkan. Akan tetapi, biasanya pada kelas NIHA'I (angkatan terakhir), di sana akan 
ditanamkan doktrin-doktrin kejamaahan dan pada saat ini, lebih pada memburuk- 
burukkan aksi jihad para ikhwah mujahid di Indonesia. 
Sebenarnya tidak ada masalah dengan doktrin-doktrin kejamaahan, karena insya Allah 
tetap berlandas pada dalil syar'i, meski pada kenyataannya mereka pun mengkhianati 
Amirnya sendiri dan mengangkat Amir baru yang misterius (dalam hal ini saya nyaris 
yakin bahwa ini hanyalah Amir boneka), yang dikendalikan oleh tokoh-tokoh tua yang 
masih hidup seperti Abu Fatih dan Abu Rusydan. Satu hal yang pasti, Abu Rusdan 
menurut pengakuan sekertarisnya yang-dengan izin Allah-mengaku pada saya dirinya 
diminta Abu Rusdan menemani pertemuan Abu Rusdan dengan Tito Karnavian dan Nasir 
Abbas di Jakarta. Pertemuan ini terjadi beberapa pekan sebelum terbongkarnya Sariyah 
Aceh. 

Jadi, kekhawatiran saya dan beberapa ikhwah bahwa pada hakikatnya Amir JI hari ini 
adalah Amir Boneka yang dikendalikan Thoghut, nyaris menjadi kenyataan. Dan JAT itu 
berbeda dengan JI. JAT punya amir yang jelas dan bersiiat jahr (legal),yang sekarang 
sedang tertimpa banyak fitnah yang dibuat oleh musuh. 
* Sampai di sini kisah dari ikhwan kami tsb* 

Demikianlah sepenggal kisah yang bisa kami uraikan yang kami ketahui 
sepanjang sejarah amaliyah jihad di negri ini. Pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa 
kita petik dari kisah di atas, sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan roda jihad yang 
telah bergulir dan tak boleh berhenti. 

Inilah Pelajaran Itu 

Berikut ini adalah poin-poin pelajaran dan kesimpulan yang kami peroleh dari 
yang kami ketahui selama ini. 

Hal-hal yang menjadi alat bantu aparat thoghut dalam melacak keberadaan 
mujahidin masih sama dari dulu yaitu : Hp, email, sidik jari,rangka kendaraan,dan hasil 
rekaman cctv di tkp 

Hal-hal yang bisa menjadi bukti awal dalam penyelidikan : rekaman 
percakapan/sms dari hp, foto-foto ketika berada di suatu acara yang intel thoghut ada di 
dalamnya, barang terlarang yang disimpan di dalam rumah (semisal senjata, sisa bahan 
peledak, dokumen sensitif ,dll),atau barang yang pernah dipake dan terekam oleh cctv 
dalam sebuah amaliyah. 

bahwa penyusupan dan pengamatan musuh terhadap komunitas-komunitas 
yang mencurigakan semakin hebat dari masa ke masa, bahkan sampai kepada forum- 
forum dan grup-grup di internet pun mereka awasi. 

Perselisihan pendapat tentang boleh tidaknya dilakukan amaliyah 
jihad,fa'i, dan sejenisnya di negri ini pada saat ini semakin membesar dengan tambahan 
bumbu-bumbu provokatif oleh agen-agen infiltran yang sengaja disusupkan oleh musuh 
ataupun karena ulah orang-orang bodoh di antara kita. 

Berhati-hatilah pada urusan-urusan seperti yg terdapat di poin no 1 dan 2, 
dan waspadalah terhadap urusan-urusan pada poin no 3 dan 4 



20 



Masyarakat di sekitar mujahidin adalah perpanjangan mata dari thoghut 

Tidak semua ikhwan bisa menjaga rahasia dan paham akan resiko jika 
sampai lengah dan terbukanya sebuah rahasia 

tidak semua ikhwan paham akan perangkat-perangkat dan siapa-siapa yg 
dipakai thoghut untuk bisa mengetahui keberadaan seorang mujahid 

kurang siapnya beberapa personel dalam sebuah thoifah amaliyah ketika 
berhadapan dengan aparat thoghut beserta alat-alat dan pendukugnya pasca terjadinya 
sebuah amaliyah daapat mengakibatkan efek berantai terbongkarnya thoifah. 

Bahwa kenyataan yang terjadi dan yang mampu kita wujudkan masih jauh 
dari teori seperti tentang kaidah amniyah, kamuflase, kemampuan survival di kota, dsb 
dsb... 

Kesadaran ummat akan pentingnya kelangsungan jihad masih minim, 
kalaupun ada itu masih sangat jauh dari yang dibutuhkan mujahidin. 

Dalam hal strategi masih terlalu kaku dalam menerapkannya, kurang 
Aeksibel 

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan pada bagian pertama dari 
rangkaian tulisan kami. Semoga dapat bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin semua. 
Dan agar di kemudian hari kita dapat berbuat yang lebih baik dari yang sudah pernah 
terjadi di masa lalu. Inilah tujuan dan harapan kami, mengambil pelajaran agar bisa 
berbuat lebih baik. 



21 



BUKU KEDUA 
MENGHADAPI MAKAR THOGHUT 

URGENSI JIHAD DAN BAGAIMANA SEHARUSNYA UMMAT BERSIKAP 

Kami tidak akan berpanjang lebar tentang fardhu'ainnya jihad pada hari ini, 
karena telah berjibun buku dan makalah yang menjelaskannya. Di sini kita akan 
membicarakan tentang amal, tentang kenapa kita tidak segera beramal (baca: berjihad), 
apa yang menghalangi kita dari jihad, sudahkah kita menjadi bagian dari amaliyah jihad, 
bagaimana bentuk jihad di masa ini, siapa apa dan bagaimana sih musuh kita itu, dst 
dst... 

Kami kutipkan kembali ayat-ayat berikut : 

FirmanALLOHTa'ala: 

" mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang- 
orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya 
berdoa: "Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim 
penduduknya dan berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong 
dari sisi Engkau!". 

"orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir 
berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena 
Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.". ( An Nisaa 75-76) 

" Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan 
dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat Para mukmin (untuk berperang). 
Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah Amat besar 
kekuatan dan Amat keras siksaan(Nya)."(An Nisaa 84 ) 

Di era tiadanya khilafah Islamiyah dan di tengah kondisi ummat Islam yang 
memprihatinkan di segala sisi kehidupannya, maka tidak ada jalan lain untuk 
mengembalikan izzul Islam dan Muslimin selain dengan jalan jihad. Sebab dengan 
jihadlah musuh itu akan mengerti bahwa ummat Islam itu ummat yang mulia, bahwa 
Islam adalah dienulloh yang haqq yang patut diperjuangkan dengan taruhan nyawa, 
bahwa ummat Islam itu pantang tunduk kepada kekuasaan thoghut, bahwa ummat Islam 
itu meskipun lemah namun masih mampu melawan, dan bahwa sesungguhnya kekuasaan 
dan kekuatan thughut/musuh itu sejatinya lemah. Semua itu hanya bisa dibuktikan 
dengan amaliyah jihad. Fakta sejarah telah membuktikan, jika kita mau melawan maka 
sebenamya musuh itu lemah. Lihatlah Daulah Islamiyah Iraq, Imarah Islam Afghanistan, 
Imarah Islam somalia, Imarah Islam Maghrib, bagaimana sejarah mereka. Semua berawal 
dari gerakan perlawanan dalam wujud amaliyah jihad. 

Jangan pernah bermimpi kekuasaan thoghut akan tumbang tanpa adanya 
amaliyah jihad untuk menumbangkannya. 

Kami (salah satu dari kami) pernah membuat sebuah tulisan tentang urgensi 
jihad, yang dimuat di forum Al Busyro. Kami kutipkan isi tulisan itu dalam sub bahasan " 
Urgensi Jihad dan Bagaimana Seharusnya Ummat Bersikap" dengan beberapa 
penambahan dan pengurangan seperlunya. 



Sebelum kita memasuki uraian ini lebih lanjut, perlu kita pahami dulu detinisi 
ummat yang kita maksud dalam tulisan ini. Ummat yang kita maksud di sini adalah : " 
ummat Islam di negeri ini yang telah faham tauhid yang benar dan telah faham bahwa 
hukum jihad hari ini adalah fardhu'ain ". Karena yang akan kita bahas di sini adalah 
berdasarkan fakta yang terjadi pada ummat dengan definisi di atas. Jadi bukan ummat 
dalam arti yang umum dan luas. 

Kesedihan dan keprihatinan kami melihat kondisi ummat yang seharusnya 
saling menguatkan namun kenyataanya adalah sebaliknya, sedang terjadi kemunduran 
dan berkurangnya kekuatan di sana sini akibat dari salah dalam menyikapi ujian dari 
Alloh Swt, membuat kami mencoba menyumbangkan pemikiran yang semoga dapat 
bermanfaat bagi kita semua. Wallohul Musta'an. 

Ikhwah sekalian yang semoga dirahmati Alloh 

Hukum jihad yang telah menjadi fardhu'ain pada hari ini semua telah sepakat. 
Tapi jika ditanyakan apakah amaliyah jihad bisa dan boleh dilakukan di mana ada musuh 
yang bisa diserang, di sinilah mulai timbul syubhat dan perdebatan. Segolongan orang 
berpendapat boleh dilakukan kapan saja dan di mana saja baik oleh perorangan maupun 
berkelompok dan segolongan yang lain berpendapat harus nunggu sampai semua syarat 
yang mereka tetapkan terpenuhi. Dua kubu inilah yang di kemudian hari saling 
berbenturan dan buruknya menjadikan kita berlarut-larut dalam perdebatan dan justru 
melupakan bahwa musuh selalu mengembangkan strategi makarnya, mengakibatkan 
melemahnya ukhuwah dan solidaritas, dan juga timbulnya saling su'uzhon. 

Mari kita coba uraikan pokok persoalan ini. Selama ini kami melihat perbedaan 
di atas muncul dari perbedaan melihat apakah sebuah amaliyah jihad itu termasuk jihad 
dalam rangka memperoleh tamkin (kekuasaan) atau hanya baru bersifat difa'i 
( pembelaan ). Kita mulai pembahasannya berikut ini. 

Sejak jatuhnya Andalusia ke tangan penjajah kafir, sejak saat itu jihad menjadi 
fardhu'ain sampe kita bisa mengembalikan atau membebaskan kembali seluruh tanah 
negri Islam ke dalam kekuasaan kaum muslimin. Terlebih lagi setelah runtuhnya benteng 
terakhir ummat Islam yaitu runtuhnya khilafah Utsmaniyah di Turki pada tahun 1924. 
Peran khilafah Islamiyah yang selama ini bisa melindungi ummat dari makar keji musuh- 
musuh Islam telah sirna pula, sehingga sejak saat itu pula ummat Islam menjadi bulan- 
bulanan sasaran makian,hujatan, cacian, pelecehan, pembesihan etnis, dll dll... tidak ada 
satu kekuatan pun yang mampu menjadi pembela. Hingga akhirnya Alloh mulai turunkan 
pertolongannya dengan terbukanya front jihad di Afghanistan pada thn 80 an. Jihad 
Afghan telah membuka mata dunia bahwa sebenarnya kaum muslimin itu sangat kuat, 
terbukti dengan runtuhnya Uni Soyyet yang tidak mampu menghadapi mujahidin. 
Singkat cerita, akibat makar musuh, buah jihad yang hampir busuk itu diselamatkan 
Alloh dengan adanya Thaliban. Ruh jihad yang bermula dari Afghan dan dibawa ke 
seluruh dunia oleh para mujahidin diupayakan untuk disatukan dan dimanajemen oleh 
sebuah tandhim yang paling menakutkan bagi musuh yaitu AL QAIDAH menjadi satu 
kekuatan global tanpa batas negara yang bisa berada di mana saja dan menyerang kapan 
saja. AQ telah menjelma menjadi kekuatan pembela ummat dan pemukul bagi musuh- 
musuh, contohnya terlalu banyak untuk disebutkan. Silahkan antum cari sendiri. 

Bisa berada di mana saja dan menyerang kapan saja adalah ciri khas Al Qaidah. 
Semua itu dalam rangka memenuhi dua kewajiban amanah yang harus ditunaikan, yaitu 



amanah untuk membela kaum muslimin yang tertindas sekian lama dan amanah 
membentuk satu tatanan dunia yang kuat yang sesuai dengan manhaj nubuwwah. Artinya, 
jihad hari ini adalah bersifat pembelaan sekaligus juga bagian dari jihad untuk 
memeperoleh tamkin (memperoleh kekuasaaan). 

Yang harus kita pahami adalah untuk bisa beralih pada tahap tamkin, maka pada 
fase jihad pembelaan ( difa'i) kita harus bisa menimbulkan kerugian yang sebesar- 
besarnya pada musuh, melemahkan kekuatan mereka selemah-lemahnya, hingga ketika 
kita ajak ummat yang lebihh luas lagi untuk berjihad tidak ada alasan lagi kekuatan kita 
belum cukup, musuh terlalu kuat, dst dst. ..!!!! 

Ikhwatiyal kirom. . . 

Inti dari pembahasan kita ini adalah kondisi ummat di dalam negeri ini, maka 
sekarang mari melihat ke dalam negri kita. Amaliyah jihad yang telah terjadi selama ini 
di Indonesia termasuk berada di tahap yang mana ? Ini penting untuk kita pahami 
bersama, karena dari pemahaman itulah kita bisa menentukan sikap yang benar terhadap 
amaliyah jihad yang terjadi selama ini. Kalau kita cermati, semua amaliyah jihad sejak 
dari jihad Ambon- Poso, Bom Natal 2000, Bom Bali I & II, sampai yang terakhir Bom 
Cirebon dan Solo adalah bentuk amaliyah jihad yang bersifat difa'i ( pembelaan ), belum 
bisa dikategorikan masuk tahap jihad untuk memperoleh tamkin. Sehingga jika ada yg 
menilai itu sebagai salah langkah, prematur, kurang perhitungan, tak paham aspek 
politik, dsb dsb...itu bisa dipastikan adalah dari golongan yang beranggapan bahwa 
jihad itu harus untuk memperoleh tamkin. 

Memang benar, tujuan akhir yang ingin diperoleh adalah tamkin. Namun jangan 
lupa, ummat perlu tarbiyah dan contoh amal nyata bahwa ummat ini masih memiliki 
pembela yang mampu menggentarkan musuh, juga butuh contoh nyata aksi pembelaan 
atas kedhaliman dan kekejaman musuh terhadap mereka selama ini. Selain itu, amaliyah 
jihad difaT juga berfungsi sebagai kawah ujian dan latihan untuk mengembangkan 
kemampuan tempur dan strategi mujahidin. Jadi, untuk dapat melakukan jihad untuk 
tamkin maka jihad difa'i harus dilakukan sebanyak mungkin dengan target melemahkan 
kekuatan musuh selemah-lemahnya, sehingga ketika jihad tamkin diserukan kepada 
ummat tidak ada alasan lagi bahwa musuh terlalu kuat dst dst...karena terbukti bahwa 
musuh itu berhasil dilemahkan. 

Setelah kita paham bahwa amaliyah jihad selama ini di negri ini adalah bersifat 
difa'i, maka seharusnya kita sepakat menjadi bagian dari barisan pendukung jihad dan 
mujahidin, bukan malah dengan menimbulkan fitnah koreksi terhadap suatu amaliyah 
yang kemudian ditanggapi dengan berlebihan pula oleh para pendukung amaliyah. Juga 
kisah-kisah memprihatinkan dalam tulisan " Risalah dan Nida'at"-nya ust Urwah 
rahimahullah, dan dalam tulisan " Pergilah Bersama Rabb-mu" nya al akh Abdul Barr al 
Harbiy seharusnya tidak terjadi lagi. Ingatlah, pada kondisi Jihad-terlebih pada kondisi 
difa'i- setiap perkataan dan perbuatan yang melemahkan jihad adalah dosa besar, dan 
pengobaran semangat berjihad adalah wajib. 

Bagaimana seharusnya ummat ini bersikap terhadap berbagai amaliyah jihad 
(difa'i) di negri ini selama ini ? Mari kita belajar dari bagaimana Thaliban bersikap 
terhadap AQ pasca serangan WTC 2001. Lihatlah Taliban, mereka tidak pernah-dan tidak 
akan pernah- menyalahkan AQ yang menyerang WTC yang kemudian mengakibatkan 
negri mereka diserang oleh pasukan koalisi salibis internasional hingga saat ini. Bahkan 
mereka kemudian bersatu padu dalam satu barisan menghadapi musuh-musuhnya dengan 



gagah perwira. Tidak ada keluh kesah yang mereka ungkapkan. Begitulah seharusnya 
ummat ini bersikap ! ! 

Apa yang kita alami di negri ini akibat dari amaliyah ikhwan-ikhwan jauh dari 
apa yang mereka alami di sana, belum ada seujung kukunya. Keikhlasan kita menjalani 
kehidupan yang lebih susah ( dakwah yg semakin berat, ma'isyah yg semakin susah, 
berkurangnya keleluasaan bergerak, dll dll ) akan bernilai sebagai bentuk dukungan 
terhadap jihad-yg fardhu'ain- dan mujahidin, dan menjadikan kita sebagai satu kesatuan 
dalam barisan jihad. 

Sebenarnya dengan adanya suatu amaliyah, itu bisa menjadi titik awal dalam 
menggalang dan menyatukan kekuatan atau bisa juga menjadi titik awal perpecahan dan 
tercerai berainya kekuatan, tergantung bagaimana ummat menyikapinya. Dan musuh- 
musuh itu sangat paham kondisi seperti ini. Maka mereka kirimkan ahli-ahli pembuat 
syubhat ke tengah-tengah ummat, mereka gunakan segala sumber daya dan media yg 
mereka miliki untuk melemahkan kekuatan ummat. Kita harus memahami ini. 

Ada atau tidaknya amaliyah jihad, thoghut itu tetap akan berusaha sekuat tenaga 
untuk mencegah terjadinya amaliyah jihad. Jika kemudian tetap terjadi sebuah operasi 
jihad (difa'i), maka itu jelas akan memperberat pekerjaan mereka, yang semula hanya 
mencegah bertambah dengan harus menanggulangi dan menindak para pelakunya. Dan 
tentu saja, upaya mereka memberantas dan mencegah amaliyah jihad akan semakin 
gencar. 

Jika kita telah mengetahui bahwa musuh akan semakin gencar dalam memusuhi 
jihad dan mujahidin pasca terjadinya suatu amaliyah jihad, maka yang semestinya kita 
lakukan adalah semakin memperkuat barisan, mempererat ukhuwwah, meningkatkan 
solidaritas, melupakan trauma, menjauhi perdebatan yang tidak penting dan saling 
su'uzhon. Agar makar musuh-musuh itu menemui kegagalan dan mengalami kerugian 
yang besar. Bukan dengan sebaliknya, saling "mengingatkan" agar tidak terimbas akibat 
amaliyah jihad, hatta menjenguk seorang masjunin saja tidak berani padahal dirinya tidak 
sedang berudzur. 

Kita juga jangan sampai terlalu berlarut-larut menyibukkan diri dengan 
perdebatan yang tidak perlu. Lebih baik gunakan energi dan pikiran kita untuk 
memikirkan strategi baru yang lebih baik dalam menghadapi musuh. Musuh itu 24 jam 
bekerja mengintai dan mencari kelemahan kita sementara kita tidak menyadarinya. 
Pelajari pola gerakan dan strategi musuh, pikirkan cara menghadapinya, cara memperoleh 
logistik yang dibutuhkan dengan cepat, dll dll. Itu insya Alloh lebih bermanfaat dari 
menyibukkan diri dalam perdebatan. 

Kita mungkin trauma atau kecewa dengan kejadian tertawannya banyak ikhwan 
mujahidin akibat operasi penindakan yang dilakukan thoghut, porak porandanya sariyah 
jihad yang dibangun, dll dll. Tapi janganlah itu semua membuat kita lemah, apalagi surut 
langkah. Janganlah rasa trauma dan kecewa karena terbongkar, kecewa karena kurang 
rapi dll itu membuat kita berhenti beramal. Jadikanlah semua itu sebagai pelajaran agar 
dikemudian hari kita bisa berbuat lebih baik lagi. Itu semua tidak boleh menjadi alasan 



untuk surut langkah. Seorang mu'min itu cerdik, gunakan semua kemampuan yang Alloh 
berikan semaksimal mungkin dan jangan berputus asa. Jalan (jihad) ini masih panjang. 

Buatlah para mujahidin merasa nyaman dalam beramal dengan cara mengambil 
sikap seperti yang telah kita uraikan di atas. Mari kita pikul bersama beban jihad ini, 
sungguh amaliyah jihad itu merupakan tanggungjawab ummat (bersama). Kalau beban 
itu hanya dibebankan kepada mujahidin, tentu itu menjadi sangat berat, yang 
menyebabkan semakin sedikit orang yang mau dan mampu berjihad. Jika tanpa kita 
sadari sikap kita telah menyebabkan mujahidin menjadi lebih mudah tertangkap, 
menelantarkan keluarga mujahidin yg tertawan, menyakiti perasan mujahidin, dll dll... 
maka maari kita segera bertaubat kpd Alloh. 

Kisah - kisah sedih seperti yang disebutkan dalam " Risalah dan Nida'at"-nya 
ust Urwah rahimahullah, dan dalam tulisan " Pergilah Bersama Rabb-mu" nya al akh 
Abdul Barr al Harbiy tidak boleh terjadi lagi pada kita. Cerita dari seorang syaikh bahwa 
pasca operasi penangkapan peserta I'dad Aceh banyak donatur besar yang mengundurkan 
diri juga sepatutnya tidak terjadi lagi. Selagi pintu taubat masih terbuka, belum ada kata 
terlambat untuk memperbaiki diri. Bersikaplah sebagaimana sikap Taliban kepada Al 
Qaidah pasca serangan WTC 2001 dan ingatlah bahwa kelak kita akan dimintai 
pertanggungjawaban oleh Alloh Swt atas segala sikap kita terhadap jihad dan mujahidin 

Wallahul musta'an... 



TUNTUTAN DAN KONSEKWENSI IBADAH JIHAD 



Sebenarnya yang ingin kami uraikan di sini adalah tentang syubhat "mashlahah 
dan mafsadah" yang mana seringkali dijadikan alasan untuk menunda-nunda jihad dan 
"menghindari" kewajiban ikut menanggung beban jihad yang dilakukan oleh sekelompok 
kecil mujahidin. Menurut kami, inilah syubhat terbesar yang menghalangi kaum 
muslimin dari berjihad dan mendukung mujahidin. Padahal sebenarnya semua kejadian 
yang menjadi efek -baik yang bagus maupun yang buruk- dari sebuah amaliyah jihad 
adalah sebuah keniscayaan. Hatta seorang Rasulullaah saw pun pernah mengalami 
kejadian yang -menurut orang bodoh- buruk dalam sebuah operasi jihad. Karena 
kewajiban seorang hamba adalah menunaikan perintah dan menyerahkan hasilnya kepada 
Sang Pembuat Syariat. 

Pada pembahasan kali ini kami banyak mengutip penjelasan dalam sebuah 
makalah yang pernah dimuat di : http://diarysangterroris.blogspot.eom/2009/ll/4- 
mengabaikan-pertimbangan-maslahat-dan.html , karena memang rujukan kitabnya 
maupun qoul ulamanya sama dengan yang kami ambil sebagai rujukan. 

Banyak kaum muslimin yang mengakui bahwa jihad fi sabilillah merupakan 
sebuah kewajiban syariat. Mereka juga menyatakan bahwa hukum jihad saat ini adalah 
fardhu 'ain atas setiap mukalaf yang mampu (seorang muslim, laki-laki, baligh, berakal 



sehat, sehat fisiknya dan mempunyai kemampuan atau biaya). 

Namun mereka tidak setuju dengan pelaksanaan operasi-operasi jihad pada saat 
ini. Menurut mereka, maslahat menuntut penundaan jihad fi sabilillah sampai suatu masa 
tertentu nanti. Pelaksanaan jihad pada saat ini, justru menyebabkan mafsadah (kerugian 
dan kerusakan) yang lebih besar. Para aktivis Islam ditangkap, aktivitas dakwah dan 
pendidikan dipantau secara ketat, dukungan masyarakat kepada gerakan Islam melemah, 
umat Islam takut melaksanakan syiar-syiar Islam dan sederet kerusakan lainnya. 

Intinya, operasi-operasi jihad justru menghambat perkembangan dakwah, 
pendidikan dan amal sosial keislaman. Jihad justru membuat dakwah mundur beberapa 
tahun ke belakang. Kerusakan yang ditimbulkan oleh operasi-operasi jihad justru lebih 
besar, dari maslahat (kebaikan) yang diraih. Oleh karenanya, operasi-operasi jihad tidak 
dibenarkan oleh syariat, dan harus dihentikan. 

Mari kita bahas hal ini lebih jauh agar semuanya menjadi jelas, apakah benar klaim-klaim 
dan pernyataan-pernyataan di atas bisa dibenarkan atau tidak. 

• Islam adalah ajaran Rasul terakhir untuk seluruh umat manusia dan jin, sampai hari 
kiamat nanti. Sebagai sebuah way of life yang bersifat sempurna, kekal dan berlaku untuk 
seluruh makhluk, Islam telah menerangkan pokok-pokok seluruh kebutuhan hidup 
manusia dan jin ; mulai dari urusan WC sampai urusan negara, sejak bangun tidur sampai 
tidur kembali, urusan di waktu siang maupun malam. 

Allah Ta'ala berfirman : 

(-£.} ^»i^jjjLII j»_J ■ "i. "^n i_sJ-°-*-> ,-»'.. ■ "<--"U -, V ^. i »M ■ "il.M -»oJI 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan 
kepada kalian nikmat kalian dan telah Kuridhai Islam sebagai agama kalian.." (QS. Al 
Maidah :3). 

- u ?u ^O >V # ^fl ^* 2* ' u^ y l^ Z '» - ' ^> ' <*" safs 

^JtwoJLiaJJ ^lIJJo Lo^.iq (_S^9 P(_S-ui ,p LjL-L) i iG-JI ' ).l<~ ^^3 

" Dan Kami datangkan kamu (Muhammmad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. 
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu 
dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Nahl :89). 

• Syariat Islam ditetapkan oleh Allah Ta'ala, yang mempunyai sifat Maha Sempurna, 
Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Adil, Maha Mengasihi hamba-Nya . Sebagai 
sebuah aturan kehidupan yang ditetapkan Allah Ta'ala, syariat Islam menjadi cerminan 
dari ke-Maha-an Allah Ta'ala. Oleh karenanya, syariat Islam adalah syariat rahmat, 
keadilan, kebijaksanaan, kebaikan dan pemeliharaan maslahat hamba baik di dunia 
maupun di akhirat. Allah Ta'ala berfirman : 

rjJi^Lj} j_^-lj ^9 ioAju_JI ^^ LJ f-J 9 uj a AJi ,-lo j&=>-C-a« -ijf l-i. Jii ^LjJI Lgp.lu 

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan 
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat 
bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus :57). 

Seorang muslim harus meyakini bahwa setiap hal yang disyariatkan Allah 
kepada hamba-Nya pasti membawa maslahat bagi hamba. Allahlah Yang Maha 
Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Oleh karenanya, nash syariat tidak 



akan pernah bertentangan dengan maslahat. 

Syaikhul Islam mengatakan : 

" ...syariah tidak pernah mengabaikan satu maslahat-pun. Bahkan Allah Ta'ala 
telah menyempurnakan dien dan menggenapkan nikmat. Tidak ada satu halpun yang 
mendekatkan ke surga, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa salam telah 
memberitahukannya kepada kita. Beliau meninggalkan kita di atas jalan yang terang, 
malamnya bak siang, tiada seorangpun yang menyeleweng darinya kecuali pasti akan 
binasa. Apa yang diyakini oleh akal sebagai sebuah maslahat, sementara syariat tidak 
menyebutkannya, tidak lepas dari salah satu dari dua kemungkinan : Pertama. Syariat 
telah menunjukkan maslahat tersebut, namun orang ini tidak menyadarinya. Kedua. 
Perkara tersebut bukan sebuah maslahat, sekalipun orang ini menganggapnya sebagai 
sebuah maslahat. Karena yang disebut maslahat adalah manfaat yang telah teraih atau 
manfaat yang lebih dominan (dari kerusakannya). Dalam hal ini, seringkali manusia 
menganggap sebuah perkara membawa manfaat untuk agama dan dunia, padahal 
sebenarnya manfaatnya dikalahkan oleh bahaya (kerusakannya). Sebagimana firman 
Allah tentang minuman keras dan perjudian : Katakanlah (wahai Muhammad), di dalam 
kedua perkara itu ada dosa dan manfaat bagi manusia. Namun dosanya lebih besar dari 
manfaatnya." 

• Dalam menerapkan dan melaksanakan nash-nash syariat, kita memang harus 
mempertimbangkan aspek maslahat dan mafsadat yang ditimbulkan. Namun, 
pertimbangan maslahat dan mafsadat tersebut juga harus dibangun di atas landasan dalil- 
dalil syar'i, bukan berdasar penapat pribadi, kemauan dan hawa nafsu. Syaikhul Islam 
mengatakan ; 

" Jika terjadi kontradiksi atau campur baur antara beberapa maslahat dan 
beberapa kerusakan, beberapa kebaikan dan beberapa keburukan, wajib diadakan tarjih 
(menentukan yang lebih besar dan dominan). Sekalipun perintah dan larangan (syariat) 
mengandung pencapaian maslahat dan penolakan mafsadah, namun perlu dilihat juga 
kebalikannya. Jika maslahat yang lepas lebih besar, atau mafsadah yang terjadi lebih 
besar, maka saat itu (perintah syariat) tersebut tidak diperintahkan, bahkan diharamkan 
apabila mafsadahnya lebih besar dari maslahatnya. 

Namun pertimbangan kadar maslahat dan mafsadat adalah dengan parameter 
(tolok ukur) syariat. Kapan seseorang mampu untuk mengikuti nash-nash syariat, ia tidak 
boleh keluar darinya. Jika tidak mampu mengikuti nash, maka ia harus berijtihad untuk 
mengetahui hal-hal yang semisal dan serupa dengan perintah yang harus dikerjakan 
tersebut." 

Jadi, perkiraan dan pertimbangan maslahat harus berdasar syariat. Tidak setiap 
hal yang dianggap oleh manusia sebagai sebuah maslahat, benar-benar sebuah maslahat 
menurut tinjauan syariat. 

• Bila telah disepakati bahwa syariat hadir untuk merealisasikan maslahat hamba di dunia 
dan di akhirat, dan pertimbangan maslahat dan mafsadah dalam melaksanakan sebuah 
perintah atau larangan syariat harus berdasar timbangan syariat (nash-nash Al-Qur'an, as- 
sunah atau ijma'). Maka harus dipahami, bahwa menunda sebuah perintah atau larangan 
syariah (misalnya, perintah jihad) dengan alasan akan menyebabkan lepasnya maslahat 



yang lebih besar (misalnya, klaim kemunduran dakwah) atau mendatangkan maisadah 
yang lebih besar (misalnya, klaim penangkapan para aktivis, putra-putra terbaik umat 
Islam), adalah termasuk dalam bab "maslahat mursalah". 

Menurut syariat, maslahat dibagi menjadi tiga : 

1- Maslahat Mu'tabarah : Yaitu maslahat yang keberadaannya diakui dan ditegaskan oleh 
nash-nah syar'i atau ijma'. Para ulama sepakat, maslahat jenis ini wajib diterima. 

2- Maslahat Mulghah : Yaitu apa yang dianggap oleh manusia sebagai sebuah maslahat, 
namun nash-nash syar'i atau ijma' menyatakannya sebagai sebuah maisadah. Para ulama 
sepakat, maslahat jenis ini wajib ditolak. 

3- Maslahat Mursalah : Yaitu apa yang dianggap oleh manusia sebagai sebuah maslahat, 
namun nash-nash syariat atau ijma' membiarkannya, tidak menyebutkan sebagai sebuah 
maslahat atau marsadah. 

Sebagian ulama menamakannya dengan istilah istihsan, istidlal wal jawab, al- 
tahsin al-'aqli, al-ra'yu atau adz-dzauq al-shuil. Karena syariat Islam datang untuk 
merealisasikan maslahat dan menolak maisadah, ada dan tidaknya maslahat mursalah ini 
menjadi ajang perdebatan panjang para ulama ushul. Mereka terpecah dalam beberapa 
pendapat : 

a- Mayoritas ulama berpendapat ; sama sekali tidak boleh menetapkan hukum atau 
berdalil dengan maslahat mursalah. 

b- Imam Malik berpendapat : boleh mempergunakan maslahat mursalah secara mutlak 
(bebas). Demikian menurut keterangan imam al-haramain Al-Juwaini. Namun pernyataan 
imam Al-Juwaini ini dibantah oleh imam Al-Qurthubi, karena setelah diteliti dalam buku- 
buku imam Malik atau murid-muridnya, tidak didapati penegasan imam Malik atas 
bolehnya menggunakan maslahat mursalah secara bebas. Yang ada, Imam Malik lebih 
banyak mempergunakan maslahat mursalah dibanding para ulama lain. Menurut Imam 
Al-Amidi, maksud imam Malik adalah kebolehan berdalil dengan maslahat secara bebas, 
bila maslahat tersebut bersifat dharuriyah, qath'iyah dan kulliyah. 

c- Imam Syafi'i dan sebagian besar murid imam Abu Hanifah berpendapat : boleh 
menetapkan hukum berdasar maslahat mursalah, dengan syarat maslahat tersebut 
mempunyai kesesuaian dengan maslahat mu'tabarah. 

d- Imam Al-Ghazali, Al-Amidi, Al-Baidhawi, Al-Qurthubi dan Al-Syaukani berpendapat : 
boleh menetapkan hukum dengan maslahat mursalah selama memenuhi tiga syarat. Bila 
salah satu atau lebih syarat tidak terpenuhi, maka tidak boleh berdalil dengan maslahat 
mursalah. Ketiga syarat tersebut adalah : 

Maslahat tersebut bersifat Dharuriyah : artinya, benar-benar merealisasikan tujuan 
syariat untuk menjaga kemaslahatan lima perkara pokok, yaitu dien, nyawa, akal, 
kehormatan (nasab) dan harta. Urut-urutan prioritas penjagaan kelima hal pokok ini 
adalah : agama, lalu nyawa, lalu akal, lalu kehormatan dan terakhir harta. Penjagaan 
terhadap maslahat agama, misalnya, harus didahulukan atas maslahat nyawa Maslahat 
nyawa, harus didahulukan atas maslahat akal. Dan seterusnya. 

Maslahat tersebut bersifat Kulliyah (menyeluruh): artinya, maslahat tersebut 
mencakup kepentingan seluruh atau mayoritas kaum muslimin. 



Maslahat tersebut bersirat Qath'iyah (pasti) : artinya, benar-benar bisa terealisasi, 
bukan sekedar angan-angan. Untuk itu, maslahat tersebut tidak boleh bertentangan 
dengan nash-nash syar'I, ijma' atau qiyas shahih (qiyas yang benar). 

Maslahat mursalah menjadi polemik di kalangan ulama, mengingat menerima 
dan mempraktekkan maslahat mursalah — secara tidak langsung, terkesan — berarti 
menganggap Allah sebagai pembuat syariat Islam tidak mengetahui atau melupakan 
sebagian perkara yang membawa maslahat bagi hamba. Tentu saja, hal ini menjadi 
sebuah pendapat yang "sensitif" dan sangat "berbahaya". 

Maslahat mursalah, banyak berpijak kepada pandangan dan penilaian akal. 
Padahal, setiap ulama tentu mempunyai perbedaan pandangan ; apa yang dianggap oleh 
seorang ulama sebagai sebuah maslahat, ulama lain mungkin memandangnya sebagai 
sebuah mafsadah, atau sebaliknya. Jika jumlah ulama adalah ribuan, secara otomatis akan 
terdapat banyak pendapat — mungkin ribuan — . Karenanya, sebagian ulama 
menyebutnya sebagai "menetapkan syariat dengan akal semata." 

Bila hal ini dibiarkan, pasti akan menimbulkan kerawanan dan kekacauan. Oleh 
karenanya, perlu dibuat kaedah-kaedah maslahat mursalah yang disepakati oleh seluruh 
atau mayoritas pihak. Dari berbagai pendapat ulama ushul, para ulama peneliti 
menyimpulkan bahwa maslahat mursalah bisa dipakai bila memenuhi beberapa 
persyaratan : 

• Maslahat tersebut bersifat dharuriyah. 

• Maslahat tersebut bersifat qath'iyah. 

• Maslahat tersebut bersifat kulliyah. 

• Maslahat tersebut tidak menyebabkan lepas atau hilangnya maslahat mu'tabarah lain 
yang sebanding atau lebih besar. 

• Maslahat tersebut tidak mendatangkan mafsadah lain yang sebanding atau lebih besar. 

Dengan adanya beberapa persyaratan ini, klaim-klaim maslahat mursalah akan 
bisa diukur dan dinilai dengan tepat. Akhirnya, seorang ulama — apalagi bukan ulama — 
tidak akan sembarangan menetapkan sebuah hukum berdasar pendapat pribadi, kemauan 
dan hawa nafsunya, dengan mengatas namakan maslahat mursalah. 

Sekarang, mari dikaji bersama klaim bahwa mafsadah operasi-operasi jihad saat 
ini justru lebih besar dari manfaatnya. Menimbang antara maslahat dan mafsadah 
mempunyai beberapa kaedah yang telah ditetapkan oleh syariat. Di antara kaedah-kaedah 
tersebut adalah : 

(1)- Bila sebuah hukum telah ditetapkan berdasar dalil (nash Al-Qur'an atau as- 
sunah, sunah taqrir, ijma' atau qiyas), adanya mafsadah dalam hukum tersebut 
tidak diperhitungkan dan harus diabaikan. 

Kaedah ini mementahkan pendapat sebagian pihak yang menyatakan jihad 
membawa mafsadah yang lebih besar, jihad menyebabkan kehilangan banyak tenaga da'i 



dan obyek dakwah, jihad mempersempit ruang gerak dakwah, dan seterusnya. Maisadah 
seperti ini sudah ada sejak zaman Nubuwah, saat jihad pertama kali disyariatkan. Meski 
demikian, jihad tetap disyariatkan dan dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
salam. Beliau juga memberangkatkan para sahabat tanpa membeda-bedakan "ini da'i, ini 
ulama, ini pebisnis, ini obyek binaan dakwah, dan seterusnya". 

Di antara para syuhada' Uhud terdapat da'i pertama Islam di Madinah, Mushab 
bin Umair. Dalam beberapa peperangan, para pemimpin senior (qiyadah) sahabat yang 
diangkat dalam Baiat 'Aqabah Kedua banyak yang terbunuh, seperti Usaid bin Hudhair, 
Sa'ad bin Rabi', Abdullah bin Rawahah, Sa'ad bin Mu'adz dan seterusnya. Dalam perang 
Yamamah, puluhan dan bahkan ratusan ulama sahabat penghafal Al-Qur'an terbunuh. 

Meski terdapat maisadah yang cukup besar, dalil-dalil Al-Qur'an, As-Sunah dan 
ijma' tetap menetapkan perintah jihad, tanpa mempertimbangkan terbunuhnya "putra- 
putra terbaik pergerakan Islam", "terbunuhnya para pemimpin, ulama dan da'i". Bahkan 
mafsadah-mafsadah ini dibantah oleh banyak ayat dan hadits, seperti : 

^^t^LAo (_jJI JS Jl pc.J<~ . l_IjS (j. jJl ^ »£pi ^ ^«ijS y Ja 

"...Katakanlah:"Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang 
telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh." (QS. 
Alilmran :154). 

s »• a % % --ii^u?J*.>«u^ J 1 -■ u •■ a 9- 2 2 ■■ ■■ 2 ■■ U u ■■ % ■■ ■■ ■■ u ■■ a % s ■■ *■ 

rj£ jLkn -« " 'E q\ tljyjl -S..ia'<l Q£. lop ijli ^k IniS Lo Lja£.llal J loAJLS a -.^''U^- 11 I Jls |/P.aII 

" Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak 
turut pergi berperang:"Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh". 
Katakanlah:"Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar." (QS. 
Ali Imran : 168). 

Kaedah ini juga mementahkan klaim sebagian pihak bahwa operasi-operasi jihad 
saat ini memancing reaksi musuh untuk memberikan balasan yang lebih keras. Mafsadah 
ini juga sudah ada sejak zaman nubuwah. Nabi shallallahu 'alaihi wa salam memulai aksi- 
aksi penghadangan terhadap kekuatan ekonomi Quraisy, sehingga kaum Quraisy 
membalas dengan mengirim pasukan ke Badar dan Uhud. 

Kaedah ini juga mementahkan klaim sebagian pihak, bahwa operasi-operasi jihad 
menyebabkan kekacauan, ketidak stabilan politik dan keamanan, tekanan kepada para 
aktivis Islam dan gerakan-gerakan dakwah, tarbiyah serta amal-amal sosial Islam. 
Sahabat Abu Bakar radiyallahu 'anhu tetap memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid. 
Pun memberangkatkan sebelas pasukan untuk memerangi para pengikut nabi palsu dan 
orang-orang yang menolak membayar zakat. Padahal, pengiriman pasukan saat itu sangat 
tidak relevan dengan kondisi keamanan Madinah yang sangat kritis dan di ujung tanduk. 
Seluruh penduduk Jazirah Arab telah murtad (selain penduduk Makkah, Madinah, dan 
Bahrain). Kaum arab badui sekitar Madinah juga menunggu-nunggu momentum yang 
tepat untuk melakukan serangan mematikan. Dalam kondisi kritis tersebut, sahabat Abu 
Bakar menyatakan," Demi Allah, seandainya anjing-anjing mengoyak pakaian yang 
dikenakan para istri Nabi shallallahu 'alaihi wa salam, saya tetap akan memberangkatkan 
pasukan." 

Pengiriman pasukan saat itu sangat tidak relevan dengan kondisi keamanan 
Madinah yang sangat kritis dan di ujung tanduk. Seluruh penduduk Jazirah Arab telah 



murtad (selain penduduk Makkah, Madinah, dan Bahrain). Kaum arab badui sekitar 
Madinah juga menunggu-nunggu momentum yang tepat untuk melakukan serangan 
mematikan. Dalam kondisi kritis tersebut, sahabat Abu Bakar menyatakan," Demi Allah, 
seandainya anjing-anjing mengoyak pakaian yang dikenakan para istri Nabi shallallahu 
'alaihi wa salam, saya tetap akan memberangkatkan pasukan." 

Pemberangkatan pasukan Usamah adalah berdasar perintah Nabi shallallahu 
'alaihi wa salam sebelum wafat, sedang pemberangkatan 11 pasukan melawan kaum 
murtad adalah untuk menjaga keutuhan tauhid, sholat dan zakat. Benar, mafsadah yang 
ditimbulkan oleh pemberangkatan pasukan adalah besar. Namun karena nash-nash syar'i 
telah memerintahkan untuk memberangkatkan pasukan, jihadpun dilaksanakan dan 
mafsadah diabaikan. Dan ternyata, perintah syariat senantiasa membawa maslahat bagi 
hamba-Nya. 



[2]- Matsadah yang bisa menggugurkan sebuah hukum, adalah inalsadah yang 
sudah di luar batas kewajaran dari hukum yang semisal dengannya. 

Sebagian hukum syariat memang mengandung bahaya. Bila bahaya tersebut 
masih dalam batas kewajaran dalam hukum semisal dengannya, maka hukum tetap 
dijalankan. Adapun bila sudah berada di luar batas kewajaran dalam hukum yang semisal 
dengannya, maka hukum tersebut boleh ditinggalkan atau ditunda karena adanya bahaya 
tersebut. 

Contoh : amar makruf nahi munkar adalah sebuah ibadah dan hukum syariat 
yang mengandung unsur bahaya dan resiko. Bila resiko yang ditimbulkan oleh amar 
ma'ruf nahi munkar adalah dipukuli, diejek atau dibenci pelaku kemungkaran, maka 
perintah amar ma'ruf nahi munkar harus tetap dijalankan karena resiko seperti ini masih 
dalam taraf wajar untuk sebuah hukum seperti amar ma'ruf nahi munkar. Bila resiko yang 
ditimbulkan adalah pembunuhan atau pemenjaraan, maka amar ma'ruf nahi munkar boleh 
ditinggalkan atau ditunda, karena resiko ini sudah diluar batas kewajaran. 

Berbeda dengan jihad. Sejak awal, jihad yang berarti perang memang beresiko 
sangat tinggi ; hancurnya harta benda, terbunuh, tertawan, mendapat balasan musuh. Jika 
dengan adanya resiko ini jihad harus ditinggalkan, tentu saja tidak benar karena semua 
resiko ini adalah sifat yang melekat erat dengan jihad, sebuah mafsadah yang tidak bisa 
dipisahkan dari jihad. Dengan kata lain, terbunuh, tertawan, mendapat balasan keras dari 
musuh adalah resiko dan mafsadah yang masih dalam taraf kewajaran sehingga tidak bisa 
dijadikan alasan untuk menggugurkan atau menunda hukum jihad. 

Kaedah ini juga berlaku untuk hukum-hukum lain. Contoh : Zakat harta. 
Banyaknya harta yang harus dibayarkan sebagai zakat (20 %, misalnya), tidak bisa 
menggugurkan atau menunda pembayaran zakat. Sebaliknya, sekalipun seorang muslim 
adalah seorang milyader, namun bila untuk sekedar berwudhu ia harus membayar harga 
yang lebih dari satu mitsl, ia boleh bertayamum karena pengeluaran biaya air untuk 
wudhu ini sudah di luar batas kewajaran orang berwudhu. 

ifcfrfyli\jyki 'tyJt*** c^i* ~\ Wj^a^! tr^i J&\ -.111-. DD. 



3- Bila mcmpcrhitungkan scbuah mafsadah mengakibatkan penihilan sebuah 
kewajiban syariat, matsadah tersebut harus diabaikan. 

Adanya sebuah mafsadah yang besar terkadang bisa menjadi alasan untuk 
menihilkan atau menunda sebuah kewajiban syar'i selama waktu tertentu yang tidak 
terlalu lama, atau untuk sebuah tempat tertentu. Namun bila adanya mafsadah dijadikan 
alasan untuk menihilkan hukum asal kewajiban syar'i tersebut, tentu saja tidak bisa 
diterima. Adanya sebagian kaum muslimin yang terbunuh atau tertawan, mungkin bisa 
dijadikan alasan untuk menunda jihad sampai beberapa waktu. Namun bila dijadikan 
alasan untuk meniadakan jihad sama sekali, tentu tidak benar. 

4- {&\jj&\ jijj y^M yiuji j;^jd. 

4- Menangung bahaya yang menimpa sebagian kecil kaum muslimin demi menolak 
bahaya yang akan menimpa mayoritas kaum muslimin. 

Contoh ; menyerang musuh yang menjadikan sebagian kaum muslimin sebagai 
perisai hidup — sekalipun berakibat kaum muslimin tersebut terbunuh secara tidak 
sengaja — , demi mencegah kemenangan pasukan musuh atas kaum muslimin, yang akan 
membawa resiko ganda ; membunuh atau menjajah kaum muslimin yang dijadikan 
perisai dan kaum muslimin lainnya. Begitu juga, menanggung resiko rasa takut, lapar, 
kekurangan harta, personal dan buah-buahan di sebuah daerah dari negeri Islam, demi 
menolak resiko serupa atas seluruh kaum muslimin yang lain di seantero dunia. 

5 .£_* j._^JJU4*«*Uij '(}-* 3-£J --- -i _,j.---3 j^-So j._^J ^.9 j._.-.UL_.1"Ij £JL.^__».J"I ^s^klljT 

5- Memandang maslahat dan mafsadah harus mencakup keseluruhan kaum 
muslimin yang mungkin akan ikut merasakan maslahat atau mafsadah tersebut. 

Kaedah ini membantah sebagian pihak yang menimbang maslahat dan mafsadah 
jihad hanya sebatas wilayah tertentu atau organisasi Islam tertentu, tanpa mengkaji 
maslahat dan mafsadat yang akan dirasakan oleh seluruh atau mayoritas kaum muslimin 
di seantero dunia lainnya. 

Operasi-operasi jihad telah menimbulkan teraihnya maslahat syar'i, berupa 
kerugian di pihak musuh yang akan menghalangi mereka untuk melakukan invasi ke 
negeri-negeri kaum muslimin. Semakin luas medan perang yang dibuat oleh mujahidin, 
kerugian di pihak musuh akan semakin besar. Karena rasa takut dan kewaspadaan musuh 
juga harus semakin luas, biaya peperangan juga semakin besar dan meluas, dugaan 
mereka akan adanya operasi-operasi di setiap negeri kaum muslimin yang mereka 
khawatirkan, dan gangguan (atau bahkan penihilan) terhadap kepentingan-kepentingan 
politik-ekonomi mereka di seantero dunia. 

Inilah strategi "Front Jihad Internasional" melawan koalisi pasukan salibis- 
zionis-paganis-komunis internasional pimpinan AS. Memperluas medan jihad dengan 
memukul seluruh kepentingan strategis musuh di seluruh penjuru dunia. Sebagian kaum 
muslimin bersikap "egois", hanya mempertimbangkan maslahat wilayah atau 
organisasinya semata, tanpa memperhatikan nasib kaum muslimin di negeri-negeri 
lainnya. Mereka lupa, kemenangan musuh di sebuah negeri kaum muslimin akan 
memperkuat kekuatan musuh, dan selanjutnya musuh akan memukul "wilayah dan 



organisasi"nya pula. 

Dengan dibukanya fornt di seantero dunia, konsentrasi dan kekuatan musuh 
akan terpecah di seluruh dunia, dan biaya perang akan semakin besar. Ini akan 
menyebabkan kerugian dan kelemahan musuh secara pelan-pelan. Akibat lainnya, pusat- 
pusat kepentingan politik dan ekonomi musuh di seantero negeri-negeri kaum muslimin 
akan terganggu, dan ini jelas semakin melemahkan musuh. 

6- Mafsadah tcrbcsar di scpanjang waktu dan tempat adalah diabaikannya ajaran- 
ajaran dien (tauhid) dan terjadinya kesyirikan. 

Dalam kisah Ghulam dan ashabul ukhdud, maslahat material apa yang 
diraih oleh ghulam ? Banyaknya pengikut ? Bukankah mercka semua juga ikut 
dibakar hidup-hidup ? Bukankah yang tersisa hanyalah raja kafir dan bala 
tentaranya yang kafir, sehingga bebas menegakkan kekahran mereka lagi ? 
Maslahat terbesar yang diraih adalah tegaknya tauhid, tumbangnya kesyirikan dan 
matinya pengikut kebenaran di atas Islam. 

Operasi-operasi jihad saat ini mungkin belum menampakkan maslahat material 
yang berarti. Namun, maslahat spiritual jelas telah nampak terang. Perealisasiaan tauhid 
uluhiyah, praktek wala' dan bara', terpisahnya jalan tentara tauhid dan tentara syirik, 
terpisahnya kaum beriman dan munafikun, penolakan terang-terangan dengan kekuatan 
terhadap kekufuran internasional (sistem politik demokrasi, sistem ekonomi kapiltalis, 
tatanan dunia baru, globalisasi, pasar bebas) dan beberapa maslahat raksasa lainnya 
— menurut kaca mata syariat — . 

Banyak di antara bentuk maslahat ini yang sama sekali tidak bisa diraih secara 
besar-besaran dan terang-terangan melalui berbagai amal Islami lainnya, semisal dakwah, 
tarbiyah, aktivitas politik parlementer maupun non parlementer, dan amal-amal sosial 
keislaman lainnya. Sekalipun menghasilkan maslahat ini, gaungnya sangat kecil, terbatas 
dalam sekup organisasi dan pengikut semata. Bila dibandingkan dengan operasi-operasi 
jihad yang telah mengangkat maslahat tersebut ke taraf panggung internasional, tentu 
hasil dakwah dan tarbiyah relatif jauh lebih kecil. 

Tidak heran, bila para pemimpin kafir menuduh mujahidin sebagai kaum 
Wahhabi, produk lembaga pembelajaran dan pendidikan Islam yang mengajarkan 
kebencian kepada non muslim. Gaung wala' dan bara' sebagai sebuah hasil tarbiyah atau 
dakwah yang hanya memenuhi otak, tentu lebih kecil dari gaung wala' dan bara' yang 
terwujud dalam operasi-operasi jihad yang menggoyang kemapanan kaum kafir. 

Dengan kaedah ini, tentu tidak wajar bila operasi-operasi jihad dinyatakan 
membawa mafsadat lebih besar karena menyebabkan terbunuh atau tertangkapnya 
sebagian kaum muslimin. Kenapa maisadah kekafiran dan kemesuman yang dipaksakan 
oleh invasi koalisi pasukan salibis tidak dianggap sebagai mafsadah yang lebih besar ? 

7. . - ^ j OjgJLi jJ I aSjAjoJ\t) (jS> jjujjl ,oJjul JjbJ/Uj^Sui i _juol ,j\9 oJuuUUOLoJI JmJJBj. 

7- Penilaian kadar maslahat dan mafsadah sebuah urusan, diserahkan kepada para 
ulama yang memahami urusan dunia. 



Seperti masalah-masalah fiqih lainnya, menilai kasus-kasus operasi jihad juga 
harus dengan memadukan dua ilmu : ilmu syar'i (ma'rifatu nash) dan ilmu tentang realita 
peperangan (ma'rifatul waqi'). Bila salah satu ilmu ini tidak ada, bisa dipastikan penilaian 
yang disimpulkan akan keliru. 

Imam Ibnu Qayyim berkata : 

»i |JJ _gi : Loit^l t ^gJI q* o^c^iu VI (J^JLj JLJI V^ (^jjJI Qa -SLJI V^ ^JiLJI qx^, V^ 

: ,__jl Jl C.0 jJlo i 1 _J_C <A J lcy^j (^gla lIjLo^LtJIo lIjI 1L0UI0 ^JjjI i3 Jl_l X-2 9 Lo Hi .i -^ J<~ iaUjH '1 ■) 4_i 4i iJlo 

p—S < 2—^9' '^— * t-r~^ 3 "i> J— ^ lt^ ?' 4—^ i_s— 9 <*— ! (•— ^" lS^— " *-^ p— ^> (0—^ 3 °>9 £— %li ^5— 9 v^3— "R— °t? 

li.VI (^jJ-C LoitA^.1 ^jieg 

" Seorang mufti dan seorang hakim (penguasa, qadhi) tidak akan bisa berfatwa 
dan memutuskan perkara dengan kebenaran, kecuali bila memadukan dua pemahaman 
(fiqih). Pertama : memahami dan mengerti betul waqi' (realita), serta menyimpulkan ilmu 
tentang hakekat realita yang ada dengan qarinah, amarah dan 'alamat (bukti-bukti dan 
data-data) sehingga ilmunya meliputi realita. Kedua : memahami apa yang wajib 
(kewajiban syariat) atas realita, yaitu memahami hukum Allah yang ditetapkan dalam 
kitab-Nya atau melalui lesan Rasul-Nya atas realita tersebut. Baru kemudian menerapkan 
yang satu (hukum syariat, pent) atas yang lain (realita)." 

Inilah ajaran Islam yang diamalkan oleh para salaf. Karenanya, ketika syaikhul 
Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang hukum memerangi pasukan Tartar, beliau menjawab 

'. i^Jjjal (_5-L^ i_s^» Ij-S&o . i^twj-jjl S-ojI ^Lalilo 4Ja~ii A j 1 ,1 n 4_LI| 1 iGaj cV <Jb /jLS 1 i^s. ^ju 

■, g - t_3 4JJI S^ __ ij_o ^-jUlo i^JL^i S_ i_iJ|[IL_f_.__J 

" Ya, wajib memerangi mereka berdasar kitabullah, sunah Rasul-Nya dan 
kesepakatan para ulama Islam. Hukum ini dibangun diatas dua dasar : Pertama. 
Mengetahui realita mereka (pasukan Tartar). Kedua. Mengetahui hukum Allah atas 
orang-orang seperti mereka." 

Demikianlah ilmu, fiqih, pemahaman dan pengamalan para salaf. Fiqhul waqi' 
atau ma'rifatu an-nas (memahami realita masyarakat) ini, dalam istilah ushul fiqih disebut 
dengan Tahqiqul Manath. Imam Asy-Syathibi berkata : 

Jl il jlcl *,.___ |__3 l___J __._. j -j_-_J__ 1 ]I_J ijla 1 *i I Jl 1 ____-] 1 U_*J q\ VI *i I Jl |__3 jUaaj l_%S uj q£. ,JL_o I ij JLrJJ tt.^J V 

/jjjio ji- J_Lo rc. J=4s /jjio JcLo /$■ J__i 4J"_u4o-\> rf. l _k___JI 

" Tidak sah bila seorang ulama ditanya tentang sebuah urusan bagaimana ia bisa 
terjadi dalam realita, kecuali dengan menjawab sesuai realita yang ada. Jika ia menjawab 
tidak dengan hal itu (sesuai realita yang ada), maka ia telah berbuat salah karena tidak 
mempertimbangkan manath yang ditanyakan hukumnya, karena ia ditanya tentang 
sebuah manath yang tertentu (definitif) namun justru ia jawab dengan manath yang tidak 
tertentu." 

Jihad fi sabilillah merupakan sebuah ibadah yang unik. Ia mempunyai dua sisi 
yang tidak bisa dipisahkan ; sisi teori dan sisi praktek. Sisi teori adalah jihad menurut 
tinjauan ilmu syar'i, dibahas dalam buku-buku tafsir, hadits dan fiqih. Pakar sisi teori ini 
adalah para ulama. Sisi praktek adalah pekerjaan teknis di lapangan, yang hanya 
diketahui oleh para pelaku yang mengangkat senjata. Antara teori dan praktek terdapat 



perbedaan yang tajam, setajam perbedaan langit dan bumi. Teori yang begitu mudah dan 
indah, sangat kontras dengan praktek yang begitu sukar dan keras. 

Oleh karenanya, dunia jihad fi sabilillah hanya akan diketahui secara benar, dari 
orang-orang yang menguasai kedua fiqih tersebut ; fiqih teori dan fiqih praktek, faham 
ilmu syar'i dan mengetahui seluk beluk dunia peperangan. Atau menurut istilah imam 
Ahmad bin Hambal, Ibnu Qayyim dan Asy Syatibi, mengetahui fiqih ahkam syari'ah dan 
ma'rifatu nas (fiqih waqi'). Merekalah yang layak memberi fatwa dan dimintai fatwa 
dalam urusan jihad fi sabilillah. 

Hal ini dijelaskan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dengan perkataan beliau : 

, LjjJI |Jj4l 4. JLc 1-oJ ii-Lk -gj _&JI ~"y.^ iual| _p.JI (tol (_gl U llg^JI >yj __3 i'"«J j-jl i lJ Jlo 

-gj 'ijjk. V (_^-JI i_£-JI (JaI i_Jp 2j , (*^Jp J^-j^ ^ _j*JI >Alio (-8 k-ill .-» g^Ic i Jjy __g JJl Lj-JI (JaI qjj 

G'j ^ ' ' " ' : " 

" Yang wajib dilakukan adalah mempertimbangkan urusan-urusan jihad dengan 
pendapat para ahlu dien shahih yang mempunyai pengalaman dengan kondisi ahlu dunia. 
Bukan dengan pendapat ahlu dunia (pakar siasat perang, pent) yang hanya melihat dhahir 
dien semata, mereka ini tidak diambil pendapatnya. Juga bukan dengan pendapat para 
ahlu dien yang tidak mempunyai pengalaman ahlu dunia (seluk beluk dunia peperangan, 
pent)." 

DR. Abdullah Azzam menjelaskan maksud perkataan syaikhul Islam ini, dengan 
menyatakan : 

S JL^ja ^-9lJO /jlo l .nU o . laljJJ lJJ1[_Jx lljLs (Jt^J (jl: jlgjJI ioJ __i (_gJ% (CjJI _jjailJa <_J 

LgjLsal Jl^llj ^puJl'. 

" Maksudnya, seorang yang memberi fatwa dalam urusan-urusan jihad haruslah 
seorang yang mampu menyimpulkan hukum (dari dalil-dalil syar'i), ikhlas, dan 
mengetahui tabiat peperangan serta realita orang-orang yang berperang." 

Para ulama yang terlibat langsung dalam jihad, adalah ulama yang memadukan 
kedua fiqih ini ; fiqih ahkam dan fiqih waqi'. Mereka telah bersungguh-sungguh 
mencurahkan waktu, ilmu, tenaga, harta dan nyawa mereka dalam memperjuangkan 
Islam. Kesungguhan (mujahadah) mereka lebih berat dan tinggi dari para ulama yang 
hanya mencukupkan diri dengan dunia dakwah, tarbiyah dan tazkiyah. 

Hal ini, sudah disadari oleh para ulama salaf sejak dahulu. Maka, amat layak 
bila terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, mereka menyarankan untuk kembali 
kepada pendapat para ulama mujahidin murabithin, para ulama yang memahami hukum 
syariah dan mempunyai pengalaman ahlu dunia. 

Allah menjadikan hidayah (petunjuk) bagi orang yang berjihad (bersungguh- 
sungguh) mencari keridhaan-Nya. Oleh karenanya, imam Abdullah bin Mubarak, Ahmad 
bin Hambal dan lain-lain mengatakan :"Jika manusia berbeda pendapat dalam sebuah 
permasalahan, maka lihatlah pendapat para ahlu tsugur (orang-orang yang menjaga 
daerah perbatasan kaum muslimin dengan daerah musuh, murabithun), karena kebenaran 
bersama mereka, karena Allah telah berfirman: Dan orang-orang yang berjihad untuk 
(mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan 
Kami)." 



Tidak diragukan lagi, setiap muslim — apalagi ulama shalihun — yang 
bersungguh-sungguh (mujahadah) akan mendapatkan hidayah. Namun kesungguhan 
setiap orang tentu bertingkat-tingkat, dan kesungguhan yang paling tinggi (sampai 
mengorbankan nyawa) adalah kesungguhan para ulama mujahidin dan murabithin. Maka, 
amat sangat layak bila hidayah yang mereka peroleh paling tinggi, sesuai ketinggian 
mujahadah dan maqam jihad-ribath yang mereka lakukan. 

Banyak pihak dan ulama yang tidak menyetujui operasi-operasi jihad hari ini, 
berdalih dengan terjadinya maisadah "jatuhnya sebagian kaum muslimin atau warga sipil 
kafir sebagai korban". Namun sayang, sebagian besar mereka tidak mengetahui proses 
operasi sehingga sampai jatuh korban dari pihak umat Islam atau warga "sipil' kafir harbi. 
Lebih dari itu, mereka hanya berdalil dengan nash-nash umum yang sebenarnya ada 
nash-nash lain yang mengkhususkannya. Dan lebih parahnya lagi, kesimpulan penilaian 
mereka berdasar informasi dari media massa yang jelas-jelas tidak obyektif, cenderung 
memojokkan Islam dan menutup-nutupi fakta sebenarnya. Dengan segala latar belakang 
penilaian "maslahat dan mafsadat" seperti ini, bagaimana penilaian mereka akan tepat ? 
Dan bagaimana mujahidin bisa mempercayai fatwa-fatwa mereka ??? 

[8]- Ijtihad pimpinan dalam menimbang maslahat dan mafsadat dimenangkan atas 
ijtihad (pendapat) selain pimpinan, selama bukan mafsadat ansich. 

Bagi sebuah kelompok yang sedang melakukan operasi jihad, pendapat 
komandan dalam menimbang maslahat dan mafsadah didahulukan atas pendapat selain 
komandan, baik ia seorang anggota kelompok maupun orang di luar kelompok. Tentunya, 
pertimbangan komandan dibangun di atas pengetahuan tentang realita dan hukum syar'i. 

9- V i ojJaj <a 9j 6 jjbLlo «uljLol ooLs Lo «jJLt «— »jujLio juujLsloJI^ ^JLaaJI ^ss JJoLUI 
4JJI ty c2i\\ £& V \\ t ^til&Ju ^ gii U JLt. 

[9]- Orang yang menimbang maslahat dan mafsadah, hanya bertanggung jawab 
atas indikasi-indikasi yang nampak saat ia melakukan kajian, bukan atas apa yang 
terjadi setelah dilaksanakannya operasi, karena tidak ada yang mengetahui hal 
yang ghaib selain Allah Ta'ala. 

Seorang komandan operasi jihad, akan melakukan kajian maslahat dan mafsadat 
atas sebuah operasi yang sedang direncanakan dan akan dilaksanakan. Ia menimbang 
maslahat dan maisadat operasi tersebut, berdasar berbagai data lapangan yang berhasil 
dikumpulkan melalui berbagai proses investigasi dan observasi. Bila setelah dilaksanakan 
operasi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan hasil kajian, komandan tidak berdosa 
karena ia hanya bertanggung jawab sebatas data-data dan indikasi-indikasi yang nampak 
saat ia melakukan kajian. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam telah memperkirakan beberapa perkara 
sebelum melaksanakan operasi jihad, namun terkadang hasilnya tidak sesuai dengan 
perkiraan beliau. Hal yang sama juga terjadi pada diri para sahabat dan generasi-generasi 
selanjutnya. 

Dalam perang Ahzab, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam menempatkan 
seluruh laki-laki yang telah baligh dan mampu berperang di luar kota, di pinggiran parit 
yang mengelilingi Madinah. Pertimbangannya tentu saja realita bahwa pasukan koalisi 



musyrik yang akan menyerang berjumlah besar dan mengepung Madinah. 

Namun, siapa menduga ternyata datang tikaman dari garis belakang, dari dalam 
kota Madinah sendiri dengan pembatalan perjanjian damai secara sepihak oleh Bani 
Quraizhah. Tidak cukup itu saja, seorang Yahudi Bani Quraizhah mondar-mandir di 
sekitar benteng tempat bertahannya kaum wanita dan anak-anak kaum muslimin. Jika 
kaum Yahudi menyerbu ke dalam kota Madinah, besar dugaan mereka akan menawan 
atau membunuh kaum wanita dan anak-anak umat Islam yang tidak mempunyai 
pengawalan tersebut. 

Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam dicela dan diharuskan 
bertanggung jawab atas kejadian diluar dugaan dan pertimbangan ini ? Beliau 
sudah berusaha maksimal mempersiapkan srategi perang, berdasar data-data yang 
masuk kepada beliau. Pengkhianatan ini terjadi setelah strategi perang beliau 
ambil. Dus, pengkhianatan ini terjadi secara insidental, dan jauh di luar dugaan. 
Tentu saja, beliau shallallahu 'alaihi wa salam tidak bisa dituntut atas kejadian ini. 

Kejadian yang senada terulang dalam peperangan generasi sahabat, tabi'in dan 
generasi-generasi setelahnya. Begitulah realita jihad. Terkadang strategi yang sudah 
dirancang begitu masak, meleset saat dipraktekkan karena terjadinya kondisi-kondisi 
surprise di luar dugaan. Dan kejadian seperti ini sering terjadi dalam dunia peperangan. 
Seorang yang arif bijaksana tentu saja tidak akan menyalahkan begitu saja kejadian di 
lapangan, tanpa mengerti duduk persoalan secara tuntas. Inilah persoalan yang sering 
dilupakan oleh sebagian pihak yang menolak mentah-mentah berbagai operasi jihad hari 
ini, dengan melihat kepada hasil praktek di lapangan yang terkadang meleset dari rencana 
dan perkiraan. 

Semoga penjelasan kami di atas dapat menjawab semua celaan dan kritikan yang 
dialamatkan kepada ikhwan-ikhwan yang telah berijtihad untk melakukan sebuah 
amaliyah jihad dengan segala keterbatasan sumber daya yang mereka miliki. Yang meski 
dalam keterbatasan tetap mereka lakukan demi menunaikan kewajiban pembelaan 
terhadap kaum muslimin sekaligus sebagai upaya meneliminasi kekuatan musuh dalam 
bingkai jihad global melawan kekuatan salibis zionis beserta para pendukung- 
pendukungnya. ( Silahkan baca dan cermati kembali Pasall ) 

BENTUK-BENTUK MAKAR THOGHUT 

Sebelum membahas tentang makar thoghut harus kita pahami dulu bahwasanya 
thoghut penguasa negri kita ini merupakan perpanjangan tangan atau salah satu perangkat 
perang salbis zionis internasional dalam memerangi mujahidin. Mereka memilih masuk 
dalam barisan pasukan Salibis Zionis internasional karena demi kepentingan duniawi 
mereka, demi imbalan dolar dan mudahnya proses perdagangan dan penjualan hasil alam 
negri ini di kancah dunia. Ketika dajjal Bush Jr la'natulaah 'alayh membagi dunia menjadi 
dua kubu yaitu :" BERSAMA KAMI atau BERSAMA TERORIS (Mujahidin/ummat 
Islam) ", mereka dengan penuh kesadaran telah memilih ikut bersama syetan Bush dan 
bala tentaranya. 

Maka dari itu, jangan merasa heran jika taktik dan srategi masing masing negara 



yang berada di kubu syetan Bush ini dalam menghadapi mujahidin memiliki banyak 
kesamaan. Karena memang induk semangnya sama yaitu Amerika. 

Dalam pemetaan mereka terhadap kekuatan mujahidin di seluruh dunia dan 
berdasarkan bentuk-bentuk amaliyah yang telah terjadi, serta berdasarkan kekuatan 
dakwah di tengah ummat dalam menopang amaliyah, maka mereka membagi straegi 
mereka menjadi dua jenis utama yaitu : 

* Hard Power, yaitu mengerahkan sumber daya militer secara penuh dalam operasi- 
operasi pemberantasan terorisme (baca: jihad) yang meliputi operasi intelijen, 
pengawasan, dan kontrol yang ketat terhadap gerak-gerik yang mencurigakan dari 
seseorang maupun sekumpulan orang sampai pada penindakan. 

* Soft Power, yaitu dengan mengerahkan segala sumber daya intelektual dan media 
massa untuk membuat masyarakat menjadi musuh alami bagi jihad dan mujahidin. 
Sehingga ummat akan mudah diadudomba, diprovokasi, dan sekaligus memudahkan 
dalam melokalisir dan meminimalisir kekuatan mujahidin. 

Dihembuskannya isu bahwa mujahid itu mudah mengkafirkan, serampangan dalam 
tindakannya, ditambah dengan perkataan para murji'ah bahwa jihad di negri ini adalah 
sama dengan pemberontak khawarij yang harus ditumpas dll dll adalah bentuk 
penggunaan soft power. 

Cara-cara hard power dan soft power di atas saling bersinergi dengan satu 
tujuan yang sama yaitu : melemahkan mujahidin agar tidak mampu lagi berbuat teror 
( baca : berjihad ), agar berpikir seribu kali jika mau membuat teror, karena tidak 
mendapat dukungan ummat dan menjadi musuh masyarakat. Itulah yang diinginkan 
thoghut. 

Maka dari itu mari kita patahkan strategi mereka itu dengan tetap istiqomah 
berada di gerbong jihad dengan berbagai tingkatan maqam-nya. Jika baru mampu 
menyantuni keluarga mujahid / masjunin teruskanlah karena itu minimal akan 
menunjukkan kepada thoghut bahwa jihad mereka didukung oleh ummat, mujahidin itu 
tidak sendirian. Itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa strategi mereka tidak 
sepenuhnya berhasil, dan ini sudah merupakan salahh satu kemenangan kita meski masih 
kecil. Kenapa kami katakan ini sebagai kemenangan ? Karena kita telah menunjukkan 
kegagalan strategi thoghut yang menginginkan ummat tidak bersimpati kepada para 
mujahidin. Demikian pula kepada teman-teman yang aktif menyebarkan berita jihad dan 
mujahidin melalui media internet, yang sibuk mentahridh kaum muslimin, menunjukkan 
dalil-dalil bantahan dari syubhat-syubhat yang ada di tengah ummat, teruskanlah karena 
itu juga bagian dari jihad. Tunjukkan kepada thoghut bahwa fikrah jihadi itu tidak bisa 
dihapus dari dada kaum muslimin, ini pun sudah menimbulkan ketakutan di hati musuh 
karena strategi mereka ada yang melawan. Bahkan jika hanya mampu mengakses berita- 
berita jihad dan mujahidin, maka lakukanlah. Karena dengan banyaknya trafik yang 
mengakses situs-situs jihadi maka setidaknya akan membuat thoghut ketakutan dengan 
jumlah orang yang berpotensi bisa jadi teroris (baca: mujahid) karena membaca artikel- 
artikel dan berita-berita jihad. Ini pernah diakui oleh pakar IT mereka beberapa tahun 
yang lalu. 

Apa yang kami sebutkan di atas merupakan bagian-bagian dari jihad dengan 



tingkatan maqam yang berbeda-beda pula. Silahkan ambil mana yang antum mampu. 
Teringat kata seorang sahabat yang bisa menjadi inspirasi bagi kita : 

" andai aku bisa jadi seekor nyamuk yang mengganggu tidur thoghut itu lebih 
baik bagiku daripada diam di tempat hanya menonton kedhaliman si thoghut ". 

BEBERAPAPENGHALANG KECIL 

Ada satu permasalahan yang selalu menjadi ungkapan dan alasan yang akhirnya 
meyebabkan seseorang membatasi amalnya. Kami sebut membatasi karena andai dia 
meniadakan alasan itu dia bisa berbuat lebih banyak. Satu uangkapan itu adalah : 
amniyah. Mungkin antum terkejut, kok amniyah bisa menjadi pembatas amal ? coba 
simak uraian berikut : 

Saat ini di tengah derasnya fitnah perburuan, pengintaian,pengawasan terhadap 
setiap aktivtas berbau "radikal" oleh aparat thoghut terhadap kaum muslimin 
muwahhidin, banyak yang kemudian terlalu melebih-lebihkan rasa hati-hati yang 
akhirnya menjadi sebuah ketakutan yg berlebihan juga. Banyak orang setelah tau bahwa 
thoghut mengawasi ,majlis-majlis ta'lim tauhid,situs-situs jihadi, forum jihadi, halaman 
dan group-group di Facebook, server IRC, dsb dsb akhirnya membuat dia menjadi 
meninggalkan aktivitas jihadi yang tadinya dia lakukan di tempat-tempat tsb dengan 
alasan amniyah, sudah tidak aman lagi beraktivitas di sana, khawatir ada penyusup, dst 
dst... 

Padahal sebenarnya jika kita tahu aturan main dan batasan-batasan pada 
masing-masing tempat di atas, kita masih bisa menerror musuh dengan cara selalu 
menimbulkan kekhawatiran akan lahirnya para mujahidin baru yang lebih cerdas dan 
lebih dahsyat amaliyahnya. Ingatlah kaidah baku ini : jika kita takut dan mundur ketika 
melihat tindakan musuh terhadap kita, maka itu berarti kemenangan bagi musuh dan 
kekalahan bagi kita. 

Lalu bagaimana cara atau aturan main ketika kita beraktivitas berbau dakwah 
tauhid dan jihad di tempat-tempat yg pasti diawasi oleh thoghut ? secara teknis detailnya 
tentu saja berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya, tapi ada beberapa poin 
dasar yang perlu dipahami dalam menyusun langkah strategi menghadapi fitnah 
"pengawasan thoghut" dan ketakutan akan adanya penyusup dari pihak thoghut. Kami 
akan mencoba menguraikannya sebatas apa yang telah kami ketahui selama ini : 

* kemampuan musuh itu sebenarnya sangat terbatas, karena hanya mengandalkan hal-hal 
bersifat materi keduniawian, sementara kita bersandar kepada Dzat yang Maha 
Sempurna. Jadi, berdoalah mohon petunjuk dan pertolonganNya dalam setiap amal. 

* Aparat Thoghut tidak akan menangkap dan memenjarakan kita hanya karena aktivitas 
yang belum sampai pada tataran praktek nyata semacam i'dad terang-terangan, 
ngumpulin silah dll. Bahkan menampung seorang mathlubin pun sebenarnya (menurut 
pengamatan dan pengalaman kami) tidak akan diadili,alasan tidak tahu kalau dia 
mathlubin bisa diterima, tidak seperti masa lalu di awal perburuan. Apalagi jika hanya 
untuk menghadapi tahridh, posting materi-materi jihad, dakwah tauhid, thoghut tidak 
akan menangkap kita. Karena : 

1. dana operasional mereka juga terbatas 

2. penjara akan penuh dengan da'i dan aktivis bukan penjahat. Belum lagi nanti para da'i 
itu akan berdakwah di penjara, wahh...makin pusing thoghut ! 

3. sampai hari ini belum ada intensif kenaikan pangkat atau hadiah uang bagi yang bisa 



menangkap aktivis dakwah di dunia maya maupun di masyarakat, jika aktivitasnya hanya 
baru pada tataran ilmiah belum praktek. Beda dengan jika sudah terjadi sebuah amaliyah, 
maka itu adlah proyek penghasil uang dan kenaikan pangkat bagi mereka. Tanpa ada 
uang dan pangkat sebagai motivasi mereka juga tidak akan bertindak. Inilah kelemahan 
tebesar mereka, bekerja untuk duniawi mereka. 

4. Thoghut belum siap menghadapi gejolak di masyarakat andai mereka mau melakukan 
itu meskipun mungkin sudah mampu secara materi. 

* untuk menghadapi aktivitas non praktek thoghut lebih menggunakan soft power seperti 
yang sudah pernah kami jelaskan sebelumnya. 

* manusia hanya bisa dan cenderung melihat dhahirnya atau kemasannya saja. Pandai- 
pandailah mengemas "dagangan" antum. 

* Tentang kekhawairan adanya penyusup atau mata-mata dalam sebuah kumpulan, 
forum, grup facebook, tidak usah diambil pusing. Tanpa menyusup pun mereka pasti 
mengawasi kita. Mudah saja menyikapinya, yaitu berdasarkan amal nyata (dhohir). Jika 
mereka mau beramal sesuai dengan standar aturan main yang kita tetapkan dalam 
kumpulan/grup/forum tsb dan ada hasilnya yang nyata, biarkan saja mereka. Kita 
manfaatkan kerja mereka itu, soal niat dan motivasi mereka kita serahkan kepada 
ALLOH dan memohon kepadaNYA agar dilindungi dari makar jahatnya. 

Lebih jauh tentang aturan main dan batasan-batasan dalam hal-hal tersebut di 
atas akan kami urakan dalam makalah/buku kami berikutnya, lebih detail dalam 
teknisnya. 

Ada satu hal lagi berkaitan dengan amniyah ini yang juga sedikit mengganggu, 
yaitu ketika ada seorang pekerja lapangan (mujahid yang sedang beramal) ditanya oleh 
ikhwan non lapangan tentang suatu hal yang mana hal itu memang menjadi rahasia 
amaliyah, sang ikhwan lapangan tadi cenderung berkata :" ini demi amniyah kami, antum 
tidak perlu tahu". Atau ketika ada sesama ikhwan lapangan satu thaifah bahkan tapi 
menempati bagian tugas yang lain, ketika menanyakan apa yang seharusnya tidak perlu 
diketahui karena memang bukan tugasnya, sang ikhwan itu juga menggunakan kata-kata 
yang sama yaitu demi amniyah antum tidak usah tahu. Ini bagi kami kurang tepat, karena 
efek psikologisnya akan berbeda jika kita mengatakan " ya akhi, ini aturan main dan 
sekaligus adab dalam amaliyah ini, antum sebaiknya tidak tahu dulu karena bukan tugas 
dan kepentingan antum". Pada kata-kata " demi amniyah antum tidak perlu tahu" efek 
psikologisnya adalah orang itu hanya akan menganggap bahwa hal itu merupakan sesuatu 
yang berbahaya,dan dapat mengurangi kreativitas orang tsb, dan kemudian masih 
menyisakan rasa penasaran kenapa dirahasiakan. Lain dengan jika dikatakan " ini aturan 
main dan adab dalam hal ini...dst", karena yang ini efek psikologisnya ada unsur 
pembinaan/tarbiyah dan kedisiplinan, ada unsur sam'u wa tho'ah dalam amaliyah yang 
bernilai ibadah. 

Jadi, alasan keamanan atau ketakutan tidak boleh menjadi penghalang amal atau 
membatasi amal kita. Hadapilah dan cerdaslah dalam memandang sesuatu. Strategi 
musuh itu pasti punya kelemahan, dan kelemahan strategi itu tidak akan kita ketahui jika 
tidak kita hadapi. Bersikaplah sebagaimana burung pemakan padi di sawah, meskipun 
tahu kalau dipasangi jaring perangkap dan ditungguin pak petani, tapi tetap saja mereka 
berusaha memakan padi-padi pak tani karena memang itulah makanan mereka. Mereka 



paham resikonya kena jaring atau lari terbirit-birit karena diusir pak tani, mereka tetap 
lakukan itu karena menganggap perangkap dan pak tani adalah sebuah keniscayaan, 
sunnatullah. Tapi padi adalah unsur pokok dalam hidup mereka, maka terjadilah seperti 
itu. Burung menjadi ujian bagi pak tani, dan pak tani menjadi ujian bagi burung. Jika 
jihad telah menjadi kebutuhan pokok sang mujahid sebagaimana padi bagi burung, tentu 
perangkap dan pengawasan musuh tidaklah menjadi penghalang bagi jihadnya. Karena 
tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka mari kita memanfaatkan celah kelemahan 
musuh yang kita temui di lapangan. 



APA YANG HARUS DIPERSIAPKAN UMMAT UNTUK MENDUKUNG JIHAD ? 



Selain harus mengambil sikap sebagaimana yang telah kami uraikan dalam bab 
" urgensi jihad dan bagaimana seharusnya ummat bersikap", ada dua hal utama yang 
harus dipersiapkan atau diperkuat oleh ummat yang mana kedua hal ini adalah yang 
paling dibutuhkan mujahidin dari ummat terutama untuk setelah amaliyah, yaitu kekuatan 
harta (ekonomi) dan ukhuwwah Islamiyah yang kuat. Harta sebagai penopang 
operasional baik bagi sang mujahid maupun keluarganya ketika sang mujahid harus 
berhijrah, dan ikatan ukhuwwah yang kuat sangat dibutuhkan sebagai perlindungan bagi 
mujahid dalam hijrah atau escapenya. ( untuk kebutuhan membuat sebuah operasi 
amaliyah tentu tidak melibatkan ummat karena aturannya memang begitu). Selama ini 
kendala utama yang dihadapi mujahid ketika harus escape dan hijrah adalah kurangnya 
dana utk transport dan rumah untuk berlindung bahkan hanya untuk selama barang 2-3 
hari pun kesulitan. Akhirnya terpaksa balik ke (rumah) keluarganya. Dan berdasarkan 
pengamatan kami 90 % penangkapan terjadi di rumah keluarga sang mujahid. 

Banyak cerita dari para masjunin yang ketika dalam pelariannya kesulitan 
mendapatkan ikhwan yang mau menerimanya sebagai tamu, padahal dia datang hanya 
seorang diri. Berapa kebutuhan makan seorang ikhwan, dan berapa luas tempat tidur yg 
dibuthkan seorang ikhwan ? Makan hanya 2-3 x sehari, tidur hanya butuh 1x2 meter 
saja, tapi alasan klasiknya adalah : rasa takut atau rasa aman ? 

Sebenarnya masalah kurangnya harta ( dana operasional ) masih bisa disiasati 
jika ikatan ukhuwwah kita kuat. Karena dalam ukhuwwah itu terkandung unsur-unsur 
pengorbanan, itsar, lapang dada, merasa senasib sepenanggungan di atas dasar tauhid 
dalam amal jihad. 

Satu hal lagi yang perlu dipersiapkan oleh ummat, yaitu kesiapan untuk 
sewaktu-waktu bila ada sebuah amaliyah jihad agar bersiap bahwa mungkin saja para 
pelakunya adalah orang-orang yang dia kenal, sehingga jika datang kepadanya untuk 
meinta perlindungan dia sudah siap. Ini juga bagian dari i'dad. I'dad mental, dan ini justru 
yang paling penting dan paling dibutuhkan oleh mujahidin. Karena kesuksesan sebuah 
amaliyah model gerilya kota dinilai dari bagaimana sang mujahid dapat bertahan setelah 
amaliyah dan bagaimana dia dapat menyusun amaliyah berikutnya. Jika setelah amaliyah 
lantas dengan mudahnya thoghut menangkap dan membubarkannya, maka yang naik 
pamor di hadapan masyarakat adalah aparat thoghut. Dan hal ini akan menjadi sangat 
berat jika ummat belum bisa menjadi tempat berlindung bagi mujahidin. 



Maka dari itu kepada kaum muslimin yang rindu tegaknya Islam dan 
tercapainya Izzul Islam wal muslimin kami serukan agar mulai bersiap dari sekarang 
untuk menyambut para mujahid Islam yang akan mengguncang singgasana thoghut 
la'natulloh. Bersiap dalam segala hal yang antum mampu untuk dipersiapkan. Mulai dari 
harta, mental, kekuatan fisik, dan kreativitas yang sekiranya dibutuhkan dalam jihad, dan 
harus siap jika tiba-tiba apa yang telah antum persiapkan itu diminta untuk dipergunakan 
secepatnya. Perkuatlah ikatan ukhuwwah antar ikhwan, jauhi perselisihan, berlapang 
dadalah terhadap urusan antar ikhwan, satukan persepsi bahwa musuh kita telah bersatu 
untuk menghancurkan kita, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk berselisih dan 
mengendorkan ukhuwwah sehingga musuh mudah menumpas kita ketika kita lengah. 
Ingat. Sekarang adalah zaman perang, dan kita tinggal pilih menjadi objek perang atau 
pelaku ( subjek) perang. Silahkan ambil posisi antum sesuai maqam yang antum mampu 
dalam peperangan ini. 

Kepada para da'i kami serukan, agar antum mulai mempersiapkan para mad'u 
antum untuk ambil bagian dari peperangan ini, sampaikan kepada ummat bahwa sudah 
saatnya kita turut menjadi pelaku perang, bukan selalu hanya menjadi objek atau sasaran 
perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Keterlibatan ummat dalam perang ini bisa 
dalam berbagai cara. Dari bersiap menjadi pelaku amaliyah jihad, menjadi anshar 
mujahidin, sampai hanya sekedar menjadi penggembira pun tidak masalah. Menjadi 
penggembira bagi mujahidin dengan menyebarkan berita-berita jihad, membela mereka 
dari tuduhan-tuduhan keji orang-orang munafiq juga merupakan salah satu maqam dalam 
jihad. Bahkan andai kata hanya bisa membuat musuh tersenyum kecut atau terganggu 
dengan aktivitas keislaman kita maka lakukanlah. 

Meskipun kami sangat berharap agar para aktiivis dakwah itu mulai 
mempersiapkan diri untuk sebuah amaliyah, amaliyah yang paling mungkin dilakukan di 
negri ini. Kami ingin i'dad yang dilakukan bukan hanya naik gunung, berlatih beladiri, 
namun juga sudah memasuki membuat simulasi penyelamatan para mujahid amiliin, 
pengintaian dan pengumpulan data-data target,mempelajari jalur logistik yang diperlukan 
(explosives,silah,dsb. Jangan kalah dengan preman), bahkan jika mungkin berlatih 
simulasi ighytiyalat dst dst.... namun cukuplah kami merasa senang dengan banyaknya 
pembela mujahidin di forum-forum internet, grup facebook, dll. Kami berharap semoga 
jika nanti jika benar-benar terjadi sebuah amaliyah ummat telah siap mendukung dan 
melindungi mujahidin. 

Pada masa jihad fardhu'ain seperti saat ini, hasil dakwah tauhid haruslah jihad fi 
sabilillah, jika tidak maka buah dari dakwah itu tidak akan bisa segera kita petik. Dan 
jihad pada hari ini adalah mengikuti pola jihad global, yaitu bagaimana kita bisa 
menimbulkan kerugian bagi musuh sebesar-besarnya dan menunjukkan kepada ummat 
bahwa mereka masih punya pembela, masih memiliki mujahidin meski hanya sedikit. 
Musuh pada hari ini semua telah bersatu di bawah bendera salibis zionis internasional di 
bawah pimpinan negara syetan Amerika. Amerika telah membagi dunia menjadi dua 
bagian, bersama kami (amerika) atau bersama teroris (miujahidin). Apakah masih belum 
jelas siapa musuh kita ? 

Bukankah kewajiban jihad itu lebih didahulukan kepada musuh yang paling 
dekat ? Apakah antum masih berpendapat jihad harus untuk memperoleh kekuasaan 
(tamkin) di negri di mana jihad berlangsung ? Tamkin itu boleh jadi bukan di negri kita, 



tapi jika thoghut di negri kita lemah karena terkuras dalam peperangan melawan 
mujahidin, kita bisa saja memplokamirkan bahwa kita adalah bagian dari Al Qaidah. Dan 
itu sudah cukup membuat dunia menilai bahwa Indonesia termasuk dalam wilayah 
"kekuasaan" Al Qaidah, yang tentunya akan semakin membuat musuh (zionis-salibis 
internasional) semakin ketakutan. Apakah jika kami melawan dan memberi sedikit 
hukuman kepada pemerintahan thoghut negri ini atas kedhaliman dan pengkhianatan 
mereka terhadap kaum muslimin lantas jihad kami dikatakan jihad prematur ? Kami 
hanya ingin membela kaum muslimin dan menunjukkan kepada musuh bahwa kita 
sebagai ummat muslim masih mampu melawan, bahwa kita masih memiliki izzah. Jika 
dengan iradah Alloh kemudian musuh menjadi lemah karena aksi kami, dan kaum 
muslimin semakin tersadar untuk menunaikan kewajiban jihad yang telah lama dibuang 
dari kehidupannya, maka itu adalah balasan dan karunia Alloh semata kepada kaum 
muslimin. Kita hanya berkewajiban untuk melaksanakan faridhah jihad. Sebab hanya 
dengan cara itulah izzul islam wal muslimin dapat kita raih. Itulah cara yang disyariatkan 
oleh Sang Pembuat Syariat. 

Sebab utama musuh semakin menjadi-jadi kedhalimannya terhadap kaum 
muslimin adalah karena tidak adanya perlawanan dari kaum muslimin, padahal telah ada 
syariat jihad sebagai pembela. Semakin ditunda jihad semakin merajalela kedhaliman dan 
kerusakan yang dibuat musuh-musuh Islam. Betul jihad itu perlu kekuatan dan 
kemampuan, tapi seiring perkembangan jihad global dengan berbagai strateginya, 
ternyata kita bisa memukul musuh meski hanya seorang diri. 

Kami akan uraikan lebih jauh tentang berbagai strategi yang bisa kita mainkan 
di negri ini pada makalah / buku kami berikutnya,kami buat tersendiri karena ini bersifat 
detail teknis dan butuh penjelasan tersendiri termasuk di dalamnya syarat untuk bisa 
memulai sebuah amaliyah dan tips dan trik lapangan yang kami peroleh selama ini. 
Mohon doanya agar segera dapat kami selesaikan secepatnya. 

Kami cukupkan sampai di sini dulu buku pertama dan kedua kami, kami 
berharap ada kritikan dan masukan dari antum setelah membaca tulisan kami tersebut di 
atas. Sengaja buku ketiga ( STRATEGI PERLAWANAN ) kami buat terpisah dan tidak 
kami terbitkan bersamaan karena kami menunggu tanggapan ummat atas tulisan kami di 
atas. Jika ada kritik, pertanyaan, dan masukan maka tentunya buku yang ketiga akan 
menjadi lebih baik lagi. 

Akhirnya, segala kekurangan dan kesalahan adalah pada diri kami dan 
kesempurnaan hanya milik ALLOH Ta'ala. Kami memohon ampun kepadaNYA dan 
berharap semoga amal kecil ini diterima di sisiNYA dan dapat bermanfaat bagi ummat. 

Wallohul Musta'an, hasbunalloh wa ni'mal wakiil wal hamdulillaahirabbil 
'aalamiin. 



Bumi Hijrah, Rabiul Awwal 1433 H. 
Al Faqiir ilaa Rabbihi 

Abu Jaisy al Ghareeb